Kasus Kalhutla di Biak, Gubernur MDF Minta Warga Setop Bakar Lahan
- account_circle topik papua
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 91
- comment 0 komentar
- print Cetak

Jayapura, Topikpapua.com, — Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Biak menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Papua. Gubernur Papua Matius D. Fakhiri (MDF) meminta masyarakat di seluruh kabupaten dan kota tidak menggunakan api untuk membuka kebun maupun membersihkan lahan.
Imbauan tersebut disampaikan MDF di tengah kondisi cuaca panas yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
MDF mengatakan telah meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua mengecek langsung kondisi kebakaran di Biak. Pemerintah, kata dia, tidak ingin kebakaran meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
“Saya sudah minta dari Kepala BPBD untuk cek. Tentunya kami tidak mau ada kebakaran hutan di Provinsi Papua,” katanya.
Ia menilai kondisi cuaca di setiap wilayah Papua berbeda. Biak saat ini mengalami suhu yang cukup panas sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
Untuk mempercepat penanganan kabut asap, Matius berencana mengumpulkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Papua.
“Saya besok akan berusaha mengundang semua Forkopimda, kita bicara tentang bagaimana penanganan kabut asap yang ada di Papua. Ke depan kita tangani bersama dan secara cepat,” ujarnya.
Namun, menurut MDF, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Pencegahan dari masyarakat menjadi kunci untuk mencegah munculnya titik api baru.
Ia meminta warga meninggalkan kebiasaan membakar lahan saat membuka kebun. Sisa vegetasi, kata dia, dapat dibiarkan membusuk secara alami dan menjadi humus yang bermanfaat bagi tanah.
“Jangan main bakar-bakar, ini berisiko pada kebakaran hutan. Ini berdampak juga nanti untuk iklim, cuaca yang ada di Papua,” tegasnya.
MDF mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan. Pencegahan sejak dini dinilai penting agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang mengancam kesehatan, lingkungan, dan kualitas udara di Papua. (Redaksi Topik)
- Penulis: topik papua






Saat ini belum ada komentar