Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » EKONOMI DAN BISNIS » Bank Indonesia Beberkan Inflasi di Papua pada Desember 2022 Sebesar 0,95 Persen

Bank Indonesia Beberkan Inflasi di Papua pada Desember 2022 Sebesar 0,95 Persen

  • account_circle topik papua
  • calendar_month Rabu, 4 Jan 2023
  • visibility 185
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Jayapura, Topikpapua.com, – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Juli Budi Winantya mengatakan Provinsi Papua mengalami inflasi sebesar 0,95% (mtm) pada Desember 2022.

Secara tahunan, Inflasi di Provinsi Papua mencapai 5,68% (yoy) atau berada pada peringkat ke 13 dari 34 provinsi berdasarkan inflasi tahunan terendah.

” Inflasi di Provinsi Papua didorong oleh Kelompok Transportasi dengan inflasi tahunan sebesar 17,03% (yoy) sehingga menyumbang andil inflasi sebesar 2,02%,” katanya, Rabu (4/1/2023).

Tingginya sumbangan inflasi kelompok transportasi disebabkan oleh inflasi pada komoditas Angkutan Udara yang tumbuh sebesar 20.53 % (yoy) dan memberikan andil inflasi sebesar 0,86%. Peningkatan harga avtur yang mencapai 53,38% (yoy) dan juga pemulihan aktivitas masyarakat intra dan antar provinsi di Papua menjadi pendorong utama peningkatan tariff Angkutan Udara.

“Konflik geopolitik yang mendorong harga energi global juga turut memberikan tekanan pada komoditas Bensin yang tumbuh sebesar 28,84% (yoy) sehingga memberikan andil sebesar 0,81%. Kenaikan harga Bensin tersebut menyebabkan penyesuaian (second round effect) pada tariff Angkutan Dalam Kota sehingga komoditas tersebut juga mengalami inflasi hingga 37,43% (yoy) atau memberikan andil hingga 0,20%,” jelas Juli.

Implikasi dari kenaikan harga energi global juga turut memberikan dampak kepada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang tumbuh sebesar 2,60% (yoy) dan memberikan andil sebesar 0,26% akibat peningkatan harga komoditas bahan bakar rumah tangga dengan andil inflasi tahunan sebesar 0,25%.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau juga mencatatkan inflasi sebesar 5,26% (yoy) sehingga menyumbangkan andil inflasi sebesar 1,95% terhadap inflasi Provinsi Papua.

“Beras menjadi penyumbang inflasi utama pada kelompok ini dengan andil sebesar 0,29% akibat hasil panen yang dibawah perkiraan pasca terjadi cuaca yang buruk di Kabupaten Merauke yang notabene merupakan lumbung pangan Provinsi Papua,” terangnya.

Selain itu, peningkatan cukai rokok sebesar 12% pada tahun 2022 menyebabkan 3 komoditas pada subkelompok tembakau, yaitu rokok putih, rokok kretek filter dan rokok kretek menyumbangkan andil inflasi tahunan sebesar 0,36%.

Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas pada kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau yang menahan terjadinya inflasi lebih tinggi lagi.

“Peningkatan produksi intra daerah serta semakin intensifnya kerjasama antar daerah mendorong peningkatan pasokan pada komoditas hortikultura seperti Cabai Rawit dan Tomat yang hingga Desember 2022 mencatatkan andil deflasi masing-masing sebesar -0,12% dan -0,09%,” katanya.

Indikator Survei

Berdasarkan Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Desember atau triwulan IV 2022 I tercatat sebesar 125,56 atau berada pada level Optimis (Diatas 100).

Tingginya IKK didorong kedua komponen yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat ini (IKE) yang sebesar 120,67, maupun Indeks Ekspektasi Konsumen yang sebesar 130,44.

“Seluruh komponen mengalami peningkatan peningkatan jika dibandingkan dengan Triwulan sebelumnya, walaupun belum setinggi Triwulan yang sama pada tahun sebelumnya yang diwarnai oleh pelonggaran aktivitas intra dan antar pulau pasca gelombang varian delta yang terjadi pada Triwulan II tahun 2021,” jelas Juli.

Indeks Ekonomi Saat ini sendiri menggambarkan kondisi usaha, penghasilan, ketersediaan lapangan kerja hingga konsumsi barang tahan lama pada saat ini dibandingkan dengan 6 bulan yang lalu.

Sementara itu, Indeks Ekspektasi Ekonomi menggambarkan perkiraan kegiatan usaha, penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja pada 6 bulan mendatang dibandingkan dengan saat ini.

“Angka di bawah 100 menggambarkan para responden yang merupakan rumah tangga mengalami pesimisme, dan angka diatas 100 menggambarkan optimisme responden. Indeks Keyakinan Konsumen yang tumbuh juga dapat menjadi leading indicator bagi Konsumsi Rumah Tangga yang notabene masih menjadi penggerak utama perekonomian di Provinsi Papu,” papar Juli.

Optimisme terhadap kondisi pertumbuhan ekonomi Papua di Triwulan IV 2022 juga tercermin dari peningkatan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang dilakukan kepada para pelaku usaha di Provinsi Papua.

SBT SKDU pada Triwulan IV 2020 tercatat sebesar 5,34%, atau lebih tinggi dari Triwulan sebelumnya yang sebesar 4,79% dan Triwulan yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar 3,82%. Adapun SBT SKDU mengindikasikan perkembangan pertumbuhan ekonomi secara kuartalan.

Sistem Pembayaran di Provinsi Papua

Outflow uang tunai di Provinsi Papua pada Triwulan IV 2022 tercatat sebesar Rp6,76 triliun atau mengalami kontraksi hingga -12,59% (yoy), Inflow uang tunai pada periode tersebut juga tercatat sebesar Rp937 miliar atau terkontraksi hingga -28,17% (yoy).

Untuk keseluruhan tahun 2022, outflow uang tunai tercatat sebesar Rp11,62 triliun atau terkontraksi sebesar -17,78% (yoy) dan inflow uang tunai juga tercatat terkontraksi hingga -8,49% (yoy), menjadi sebesar Rp9,55 triliun.

” Menurunnya penggunaan uang tunai di Provinsi Papua salah satunya disebabkan oleh semakin meningkatnya akseptasi masyarakat terhadap digitalisasi pembayaran. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya penggunaan ATM/Debit sepanjang tahun 2022 hingga Triwulan III 2022 yang tercatat sebesar Rp76,50 triliun atau tumbuh sebesar 101% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya,”ungkapnya.

Penggunaan kartu kredit sepanjang tahun hingga Triwulan III 2022 juga tercatat sebesar Rp294,54 miliar atau tumbuh sebesar 58,62% (yoy). Tren pembelian melalui e-commerce pun juga tumbuh cukup tinggi, dengan nilai sebesar Rp583,20 miliar hingga Triwulan III 2022, atau tumbuh sebesar 41%.

QRIS yang semakin menjadi opsi utama pembayaran ritel masyarakat di Provinsi Papua juga mencatatkan pertumbuhan. Per bulan Oktober 2022, nominal transaksi QRIS sudah mencapai Rp21,52 miliar atau tumbuh nyaris 20 kali lipat jika dibandingkan dengan Desember 2021.

“Tumbuhnya transaksi QRIS tersebut juga didorong oleh peningkatan jumlah pengguna QRIS yang sudah mencapai 76.405 pengguna pada bulan Oktober 2022, atau tumbuh hampir lima kali lipat dibandingkan dengan Desember 2021. Sementara itu, jumlah merchant QRIS juga tumbuh hingga 25% menjadi 128.344 merchant yang beroperasi di Provinsi Papua,” tandas Juli. (Redaksi Topik)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Penulis: topik papua

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less