Saat Air Keruh Tak Lagi Menyulitkan Wudhu, Mengalirkan Berkah untuk Jemaah Masjid Saiful Al-Bukhori Agats
- account_circle topik papua
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 50
- comment 0 komentar
- print Cetak

Agats, Topikpapua.com, – Hujan selama ini menjadi napas kehidupan bagi masyarakat Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan. Di daerah yang dikenal dengan julukan Kota Seribu Papan dan dibangun di atas hamparan rawa ini, air tetesan dari langit menjadi tumpuan utama warga untuk kebutuhan hidup, mulai dari mandi, mencuci, memasak, hingga bersuci.
Namun, anugerah dari langit tak selalu datang setiap saat. Memasuki musim kemarau, kekeringan lambat laun memicu kecemasan bagi warga. Situasi pelik ini sangat dirasakan oleh jemaah Masjid Saiful Al-Bukhori yang berlokasi di Jalan Mbait, Kampung Mbait, Distrik Agats. Meski telah menjadi tempat sujud umat sejak belasan tahun lalu, masjid ini rupanya tak luput dari kendala keterbatasan air bersih.
Upaya untuk mengatasi krisis air ini sejatinya sudah dilakukan sejak lama. Pengurus masjid sempat memanfaatkan sumur bor dan memodifikasinya dengan penyaringan sederhana agar pasokan air tetap terjaga. Akan tetapi, kerasnya kondisi geografis membuat usaha tersebut belum maksimal. Kualitas air sumur bor yang mengalir masih keruh, kerap menyisakan keraguan bagi jemaah yang hendak bersuci sebelum menghadap Sang Pencipta.
“Sebenarnya Masjid Saiful Al-Bukhori sudah memiliki sumur bor sebagai sumber air. Namun kualitas air dari sumur tersebut masih keruh dan belum layak untuk langsung dikonsumsi sebagai air minum,” ungkap Burhan Ar Rahman, Ketua DKM Masjid Saiful Al-Bukhori.
Kondisi ini memaksa pihak pengurus masjid memutar otak. Untuk kebutuhan minum jemaah, pengurus terpaksa merogoh kocek ekstra guna membeli air galon. “Hal ini tentu menambah biaya operasional masjid, terutama saat kegiatan keagamaan atau ketika jumlah jemaah sedang banyak,” tambah Burhan.
Kini, kecemasan itu perlahan sirna. Kabar baik hadir di tengah jemaah Masjid Saiful Al-Bukhori dan warga sekitar. Air tawar yang jernih, tak berbau, dan tak berasa kini mengalir deras di area wudhu masjid.
Kehadiran air bersih ini terwujud berkat uluran tangan berupa bantuan mesin pengolahan air (desalinasi) dari PT PLN (Persero) melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Teknologi ini menjadi solusi konkret, mengubah air sumur yang sebelumnya keruh menjadi air tawar yang jernih untuk memenuhi kebutuhan harian jemaah dan warga sekitar.
“Alhamdulillah, dengan adanya bantuan mesin pengolahan air dari Program TJSL PLN, air dari sumur bor yang sebelumnya belum layak diminum kini dapat diolah menjadi air yang bersih dan jernih,” ujar Burhan penuh syukur.
Bantuan ini dinilai sangat strategis dan tepat sasaran karena kebutuhan air bersih harian jemaah kini dapat dipenuhi langsung dari fasilitas masjid. Manfaat dari desalinasi ini bahkan melampaui batas tembok masjid. Gemercik air bersih ini turut membawa kebaikan untuk menopang rutinitas keseharian bagi sekitar 200 jemaah dan warga di sekitar lingkungan masjid.
“Kami merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PLN atas kepeduliannya kepada Masjid Saiful Al-Bukhori dan masyarakat sekitar. Selain mengurangi biaya pembelian air minum, bantuan ini sangat mendukung kenyamanan jemaah dalam beribadah serta membantu pemenuhan kebutuhan harian warga,” tuturnya.
Kini, setiap kali panggilan azan berkumandang di ufuk Agats, jemaah Masjid Saiful Al-Bukhori tak perlu lagi dihantui rasa cemas melihat tandon air yang kosong atau harus berhemat saat membasuh wajah. Air bersih terus mengalir, menyempurnakan ibadah dan menyambung denyut kehidupan di atas rawa Asmat. (Redaksi Topik)
- Penulis: topik papua






Saat ini belum ada komentar