Beberkan Data Penderita TB dan Malaria di Papua, Gubernur Fakhiri Minta Dukungan Pusat Perkuat Posyandu
- account_circle topik papua
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 100
- comment 0 komentar

Jayapura, Topikpapua.com, – Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam percepatan eliminasi penyakit menular seperti AIDS, tuberkulosis (TB), malaria, dan kusta di Tanah Papua.
Hal itu disampaikan Fakhiri dalam rapat koordinasi teknis percepatan eliminasi penyakit menular yang dihadiri Wakil Menteri Kesehatan, Wakil Menteri Dalam Negeri, Gubernur se Tanah Papua beserta jajarannya di Kota Jayapura, Selasa (28/4/2026).
“Kehadiran Bapak dan seluruh jajaran Kementerian Kesehatan hari ini merupakan bentuk nyata perhatian dan komitmen pemerintah pusat dalam memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah,” ujar Fakhiri.
Ia mengatakan, Papua memiliki tantangan geografis dan sosial yang kompleks, sehingga penanganan masalah kesehatan membutuhkan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Fakhiri menyebutkan bahwa pada 2025 terdapat 11.624 kasus TB yang ditemukan di Papua, namun yang berhasil ditangani baru sekitar 6.794 kasus atau 58 persen.
“Hal ini menunjukkan upaya penemuan kasus secara aktif, penguatan layanan kesehatan, serta kepatuhan pengobatan masih perlu terus ditingkatkan,” katanya.
Selain TB, malaria juga menjadi perhatian serius. Fakhiri menyebut Papua masih menyumbang 80 hingga 90 persen kasus malaria nasional. Dari lebih dari satu juta pemeriksaan, ditemukan 303.931 kasus positif.
“Keberhasilan Indonesia dalam mengendalikan malaria sangat ditentukan oleh keberhasilan kita di Papua. Karena itu, saya berharap tidak ada data yang ditutupi,” tegasnya.
Gubernur Fakhiri juga meminta dukungan pemerintah pusat untuk memperkuat layanan kesehatan di tingkat akar rumput, khususnya melalui posyandu.
“Kami mohon dukungan, terutama untuk posyandu kami. Berikan dukungan anggaran agar mereka bisa membantu menemukan masyarakat yang berpotensi terkena HIV, TB, maupun penyakit lainnya,” ujarnya.
Ia menegaskan, upaya eliminasi penyakit tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk TNI, Polri, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
“Perang melawan TB, malaria, AIDS, dan kusta tidak dapat dimenangkan sendiri. Ini membutuhkan partisipasi semua pihak,” kata Fakhiri.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan bahwa Papua menghadapi beban penyakit menular yang jauh lebih tinggi dibanding wilayah lain di Indonesia, khususnya malaria, tuberkulosis (TB), HIV/AIDS, dan kusta.

Benjamin menyebut lebih dari 90 persen kasus malaria nasional berasal dari Papua, “Berdasarkan laporan, kasus malaria di Papua lebih dari 90 persen. Seluruh wilayah Indonesia lainnya tidak sampai 10 persen. Untuk itu, saya memilih segera ke Papua, ayo kita bereskan malaria bersama-sama,” ujar Benjamin.
Ia juga menyoroti tingginya kasus TB dan HIV/AIDS yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk Papua yang sekitar 5 juta jiwa.
“Kasus TB nasional, 4 persen ada di Papua. Ini tinggi sekali. Kemudian HIV/AIDS juga 12 persen berasal dari Papua. Ini amat sangat tinggi untuk ukuran penduduk 5 juta,” katanya.
Menurut Benjamin, persoalan ini harus ditangani serius dan terintegrasi. Ia bahkan menyoroti kasus kusta di Kota Jayapura yang masuk dalam lima wilayah dengan kasus tertinggi di Indonesia.
“Kita harus bereskan kasus kusta dari Kota Jayapura. Ini bukan daerah pegunungan, ini di tengah kota, jadi harus bisa diselesaikan,” tegasnya.
Untuk TB, ia mengungkapkan estimasi total kasus di enam provinsi di Papua mencapai hampir 40.000 kasus. Di Papua Pegunungan saja, terdapat sekitar 5.700 kasus, namun yang terdeteksi dan diobati baru 42 persen.
“Artinya masih ada 58 persen yang belum tertangani dan berpotensi menularkan ke masyarakat,” ujarnya.
Benjamin juga mengingatkan pentingnya penanganan medis yang tepat, termasuk pemisahan pasien TB di rumah sakit untuk mencegah penularan.
“Jangan sampai pasien TB bercampur dengan pasien lain. Ini tidak boleh terjadi. TB harus dirawat di ruang isolasi,” kata dia.
Ia menekankan, edukasi dan komitmen seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam percepatan eliminasi penyakit menular di Papua. (Redaksi Topik)
- Penulis: topik papua




