Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » PAPUA CERAH » Perubahan Iklim Global: Ancaman Nyata Bagi Pasifik dan Pesisir Papua

Perubahan Iklim Global: Ancaman Nyata Bagi Pasifik dan Pesisir Papua

  • account_circle topik papua
  • calendar_month Jum, 30 Mei 2025
  • visibility 267
  • comment 0 komentar

Jayapura, Topikpapua.com, – Perubahan iklim global bukan lagi ancaman yang jauh di depan mata, namun dampaknya mulai mendekati kita hari-hari ini. Bagi negara-negara di kawasan Pasifik, dampaknya terasa semakin nyata dan menghantam komunitas paling rentan yang justru menyumbang sangat sedikit terhadap emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim global.

Melalui artikel pendek ini kami ingin mengajak kita semua melihat lebih jauh bagaimana perubahan iklim kini menjadi “soal hidup dan mati” bagi banyak masyarakat pesisir di Pasifik dan seharusnya menjadi perhatian kita di Tanah Papua.

Negara Kepulauan Kecil di Pasifik: Garis Depan Krisis Iklim

Negara-negara kepulauan kecil di Pasifik, seperti Kiribati, Tuvalu, Kepulauan Marshall dan Kepulauan Solomon, berada di garis depan krisis iklim. Mereka menghadapi kenaikan permukaan laut global diproyeksikan mencapai 0,29-1,1 meter pada akhir abad ini (IPCC, 2021). Perubahan pola curah hujan di kawasan Pasifik ditandai dengan meningkatnya variabilitas dan intensitas curah hujan (Keener et al,. 2012).

Kemudian meningkatnya suhu air laut yang menyebabkan fenomena pemutihan karang (coral bleaching) secara masif di kawasan Pasifik dan mempengaruhi lebih dari 70% terumbu karang global (Hughes et al., 2018). Naiknya frekuensi dan intensitas siklon tropis seperti Siklon Winston yang menghantam Fiji pada tahun 2016 dan Siklon Tropis Sarai di 2019 menyebabkan kerugian sebesar 1,4 miliar dolar AS atau sekitar 31% dari PDB negara tersebut (Esler, 2016).

Ironisnya, meski kontribusi mereka terhadap emisi global nyaris nol, negara-negara ini harus memikirkan relokasi massal penduduk sebagai dampak yang telah menjadi sebuah krisis kemanusiaan yang perlahan menjadi tak terhindarkan.

Komitmen Nasional Menghadapi Krisis Iklim

Indonesia berkomitmen menghadapi perubahan iklim yang dinyatakan dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (Enhanced NDC) yang disampaikan ke Sekretariat UNFCCC pada 23 September 2022. Dimana kita menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) untuk tahun 2030 sebesar 31,89% dibandingkan skenario business as usual (BAU) tanpa syarat, dan penurunan hingga 43,20% jika mendapat dukungan internasional dalam bentuk pendanaan, transfer teknologi dan pengembangan kapasitas (www.menlhk.go.id).

Untuk mencapai target tersebut, Indonesia mengandalkan berbagai strategi, termasuk Pengelolaan hutan berkelanjutan dan restorasi ekosistem yang terdegradasi, peningkatan produktivitas pertanian serta konservasi energi. Selain itu, Indonesia menetapkan target FOLU Net Sink 2030 mencapai emisi negatif sebesar 140 juta ton CO₂e di sektor kehutanan dan lahan pada tahun 2030.

Namun, menurut penilaian Climate Action Tracker (CAT), target Enhanced NDC Indonesia masih dikategorikan sebagai critically insufficient untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris dalam membatasi pemanasan global hingga 1,5°C (www.iesr.or.id).

Potret Ketahanan dan Kerentanan di Papua

Kemudian marilah kita melihat ke timur di Tanah Papua, wilayah paling timur Indonesia lalu berpikir bahwa Papua masih jauh dari bencana ini, maka kita keliru. Masyarakat pesisir di Papua kini menghadapi realitas yang sama beratnya. Erosi pantai dan intrusi air laut di Merauke contohnya, pemutihan terumbu karang (coral bleaching) di Raja Ampat misalnya, serta perubahan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi, serta banyak fenomena lainnya adalah manifestasi lokal dari krisis global ini.

Demikian pula kekayaan budaya di Papua turut menghadapi ancaman perubahan iklim ini. Kita tahu kalau Papua adalah rumah bagi lebih dari 200 lebih suku yang diantaranya hidup di pesisir secara turun-temurun berdampingan dengan laut. Mereka memiliki kearifan lokal yang luar biasa, seperti “praktik sasi” untuk menjaga sumber daya laut tetap lestari.

Namun, perubahan iklim menggerus dasar-dasar ekologis dan budaya ini dan menciptakan ancaman terhadap ketahanan pangan, kesehatan, bahkan identitas kultural masyarakat adat.

Solusi ke Depan: Adaptasi Berbasis Ekosistem dan Kearifan Lokal

Melihat kenyataan ini, solusi adaptasi tidak bisa hanya bersifat teknokratis. Pendekatan berbasis ekosistem, seperti upaya rehabilitasi mangrove di Teluk Bintuni, serta konservasi ekosistem terumbu karang di Raja Ampat, terbukti efektif memperkuat pertahanan alami.

Demikian pula, integrasi antara sains modern dan pengetahuan tradisional menjadi kunci inovasi adaptasi lokal sebagaimana ditunjukkan dalam kolaborasi masyarakat di pesisir dan perguruan tinggi seperti Universitas Papua dan Universitas Cendrawasih melalui riset dan kerjasama pengabdian pada masyarakat.

Semua upaya ini membutuhkan kerjasama dan dukungan nyata dari pemerintah pusat dan daerah. Rencana pembangunan di wilayah pesisir Papua harus mengarusutamakan adaptasi perubahan iklim ke dalam setiap kebijakan tata ruang dan program pembangunan daerah di Papua. Tanpa langkah serius, risiko kehilangan ekosistem, budaya, dan masa depan masyarakat pesisir akan semakin besar.

Suara dari Timur

Masyarakat di pesisir Papua dan kelompok organisasi sipil (NGO) adalah petarung terdepan dalam menghadapi dampak ini. Masyarakat pesisir, terutama nelayan, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti kenaikan permukaan air laut, perubahan pola cuaca dan intrusi air asin. Sementara NGO dapat membantu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan, serta keterampilan masyarakat pesisir dalam mengadaptasi perubahan iklim, serta mendorong kebijakan pemerintah yang mendukung adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang mengadopsi kearifan lokal di Papua.

Untuk pemerintah daerah dalam rangka adaptasi dan mitigasi perubahan iklim terutama di daerah pesisir, menjadi penting untuk memastikan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang terintegrasi untuk menangani dampak perubahan iklim di wilayah pesisir.

Khususnya menghadapi kenaikan permukaan air laut dan perubahan pola cuaca yang semakin ekstrim. Selain itu pemerintah perlu memastikan terjaganya ekosistem di pesisir seperti Mangrove dan Pandan laut (Pandanus tectorius Park.) yang tersebar dihampir semua daerah pesisir Papua.

Pohon pandan laut mampu menahan abrasi pantai, mengurangi dampak negatif pasang air laut, berperan sebagai mitigasi tsunami, serta meminimalisir terjadinya kerusakan pada ekosistem di darat. Pada akhirnya perubahan iklim bukan hanya tentang angka suhu global, ini tentang manusia, tentang rumah, tentang warisan leluhur yang ingin kita jaga untuk generasi mendatang.

Penulis: Natalie J. Tangkepayung (Mahasiswa Magister Biologi Konservasi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih) & Lisye Iriana Zebua (Dosen pada Jurusan Biologi FMIPA Universitas Cenderawasih)

  • Penulis: topik papua

Rekomendasi Untuk Anda

  • C-19 Papua 28 Mei : Tambahan Positif 21, Sembuh 20, Total 673 Kasus

    C-19 Papua 28 Mei : Tambahan Positif 21, Sembuh 20, Total 673 Kasus

    • calendar_month Kam, 28 Mei 2020
    • account_circle topik papua
    • visibility 656
    • 0Komentar

    Jayapura, Topikpapua.com, – Penambahan pasien positif Covid-19 di Papua hari ini sebanyak 21 orang, sehingga Total komulatif hingga pukul 17.00 wit sebanyak 673 Kasus. “Hari ini ada penambahan 21 kasus baru, berasal dari Kabupaten Mimika sebanyak 17 orang, kabupaten  Jayapura 3 orang dan kabupaten Nabire 1 orang, sehingga total pasien positif Covid-19 di Papua hinga […]

  • Dua BTS Palapa Timur Kabupaten Puncak Dibakar KKB

    Dua BTS Palapa Timur Kabupaten Puncak Dibakar KKB

    • calendar_month Sen, 11 Jan 2021
    • account_circle topik papua
    • visibility 1.503
    • 0Komentar

    Jayapura, Topikpapua.com, – Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali berulah. Setelah membakar pesawat MAF di Kabupaten  Intan Jaya, Kali ini giliran KKB wilayah Puncak membakar dua unit generator BTS milik Palapa timur. Kabid Humas Polda Papua, Kombes AM Kamal menjelaskan pembakaran dua unit generator BTS tersebut terjadi pada tanggal 6 januari 2020. “Dari pihak Palapa Timur […]

  • Dua Tersangka Pemerkosaan Diserahkan ke Kejaksaan

    Dua Tersangka Pemerkosaan Diserahkan ke Kejaksaan

    • calendar_month Sab, 15 Agu 2020
    • account_circle topik papua
    • visibility 455
    • 0Komentar

    Jayapura, Topikpapua.com – Kasat Reskrim AKP Komang Yustrio Wirahadi Kusuma, S.IK mengatakan pihaknya telah menyerahkan dua tersangka kasua persetubuhan anak ke Kejaksaan Negeri Jayapura, Jumat (14/08/20). Kedua tersangka yakni HSA (18) dan OW (19) yang merupakan warga Distrik Sentani Barat Kabupaten Jayapura dengan Korban EC (17)  “Penyerahan tersangka HSA dan OW telah diserahkan, sehingga keduanya telah menjadi […]

  • Ini Alasan Papua Dipercaya Menjadi Tuan Rumah GCF Tahun 2023

    Ini Alasan Papua Dipercaya Menjadi Tuan Rumah GCF Tahun 2023

    • calendar_month Jum, 8 Apr 2022
    • account_circle topik papua
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Jayapura, Topikpapua.com, – Terkait dengan ditetapkannya Provinsi Papua sebagai tuan rumah GCF Task Force Annual Meeting 14 2023, berdasarkan hasil dari pertemuan tahunan Governors Climate and Forest Task Force di Kota Manaus Brazil pada Maret 2022 lalu. Juru Bicara Gubernur Papua, Muhammad Rifai Darus mengungkapkan, bahwa Gubernur Papus Lukas Enembe telah menerima surat dari Profesor […]

  • 900 Personil TNI Satgas Pamtas Tiba di Jayapura,  6 Diantaranya Reaktif

    900 Personil TNI Satgas Pamtas Tiba di Jayapura, 6 Diantaranya Reaktif

    • calendar_month Jum, 17 Jul 2020
    • account_circle topik papua
    • visibility 690
    • 0Komentar

    Jayapura, Topikpapua.com –  900 orang personel prajurit TNI dari Yonif 100/Prajurit Setia dan Yonif 312/Kala Hitam, Kamis (16/07/20) tiba di Pelabuhan Jayapura Kedatangan mereka, dalam rangka pelaksanaan tugas pengamanan perbatasan RI-PNG di wilayah Kolakops Korem 172/PWY. “Pada hari ini kami mewakili Panglima Kodam XVII/Cenderawasih menerima lagi tambahan sebanyak 900 personel dari dua batalyon yang akan […]

  • SMPN 2 Dekai Kabupaten Yahukimo Terbakar

    SMPN 2 Dekai Kabupaten Yahukimo Terbakar

    • calendar_month Kam, 16 Mar 2023
    • account_circle topik papua
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Jayapura, Topikpapua.com, – Gedung SMP Negeri 2 Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan terbakar, Kamis (16/3/2023) sekitar pukul 01.25 WIT. Kapolres Yahukimo AKBP Arief Kristanto membenarkan informasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa sebelum kejadian sekitar pukul 21.30 WIT, aparat gabungan TNI-Polri sempat melaksanakan patroli mengelilingi Kota Dekai. “Setelah kembali ke Mako Polres Yahukimo untuk konsolidasi kemudian terdengar […]

expand_less