Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » EKONOMI DAN BISNIS » Merajut Kehidupan Laut Jayapura, Mengubah Abu FABA Menjadi Surga Biota

Merajut Kehidupan Laut Jayapura, Mengubah Abu FABA Menjadi Surga Biota

  • account_circle topik papua
  • calendar_month 53 menit yang lalu
  • visibility 44
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Jayapura, Topikpapua.com, – Deburan ombak yang menyapu lembut pasir menjadi saksi dimulainya babak baru kehidupan di bawah permukaan laut biru Pantai Holtekamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. PT PLN (Persero) bersama komunitas EAB (Enak Apa Bilang) Outdoor merajut kisah pelestarian lingkungan yang unik melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Sinergi ini menghadirkan keajaiban kecil dengan menyulap material Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari PLTU Holtekamp menjadi pilar-pilar rumah bagi biota laut.

Material sisa pembakaran batu bara yang sebelumnya kerap dianggap tak bernilai, kini diubah wujudnya menjadi benteng perlindungan ekosistem laut yang kokoh. Langkah ini bukan sekadar menenggelamkan sisa pembuangan energi kelistrikan ke dasar samudra, melainkan ikhtiar mulia untuk menghidupkan kembali keanekaragaman hayati perairan Jayapura yang sempat meredup.

Keamanan pemanfaatan material ini terjawab lewat racikan presisi 30 hingga 35 persen FABA, pasir, semen, dan perekat khusus yang membentuk struktur ramah lingkungan. Cetakan beton ini dijamin aman bagi biota laut dan tangguh menahan gerusan arus bawah. Selain itu, desain ruang pada beton disiapkan secara khusus untuk melindungi benih ikan dari predator, sekaligus menjadi media bagi terumbu karang untuk berkembang biak.

Tahapan paling krusial pada upaya pelestarian ini adalah proses penenggelaman modul rumah ikan ke dasar lautan. Terkait eksekusi teknis tersebut, Perwakilan Komunitas EAB Outdoor, Fandi Joyo, memaparkan strategi yang diterapkan oleh tim penyelam.

“Setelah modul rumah ikan mengeras sempurna, empat penyelam dari Komunitas EAB menurunkannya satu per satu ke dasar laut berpasir di kedalaman 5 hingga 7 meter, tepat di area yang aman dari jalur perlintasan kapal besar pembongkar batu bara. Penyelaman dilakukan pada pagi hari untuk menghindari arus bawah laut yang kuat,” jelasnya menggambarkan perhitungan matang tim penyelam.

Di balik misi penyelamatan ekosistem, terselip harapan besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir Jayapura melalui konsep Creating Shared Value (CSV). Bagi masyarakat pesisir, laut bukanlah sekadar hamparan air asin, melainkan tumpuan hidup dan dapur keluarga. Ketika populasi ikan kembali melimpah di dekat pantai berkat rumah baru ini, nelayan lokal tak perlu lagi mempertaruhkan nyawa melaut terlalu jauh ke tengah samudra.

Upaya ini tentu tidak berhenti setelah beton-beton tersebut menyentuh dasar pasir, karena kelestarian alam membutuhkan pengawalan berkelanjutan. Untuk memastikan terumbu karang dan biota laut tumbuh optimal, Komunitas EAB telah merancang jadwal pengawasan rutin bawah air sebanyak dua kali dalam sebulan. Jika sewaktu-waktu perkembangan karang alami dirasa terlalu lambat, tim penyelam bersiap untuk segera menerapkan metode transplantasi (stek) karang.

Fandi menitipkan pesan mendalam agar ikhtiar baik ini terus dijaga kelestariannya oleh seluruh lapisan masyarakat sekitar tanpa terkecuali.

“Kami berharap inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat dengan tidak merusak ekosistem yang sedang dibangun. Kami ingin anak cucu kita kelak masih bisa melihat keindahan laut yang kita saksikan hari ini. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaga alam,” tegasnya penuh harap.

Senada dengan semangat pelestarian tersebut, General Manager PLN UIW Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

“Kami melihat FABA bukan sebagai akhir dari sebuah proses produksi, melainkan potensi untuk menciptakan awal kehidupan baru bagi ekosistem laut. Melalui program ini, PLN ingin membuktikan bahwa upaya menerangi negeri dapat berjalan selaras dengan pelestarian alam, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat pesisir Jayapura,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar memperbaiki kondisi alam, langkah ini membuktikan bahwa program TJSL mampu memberikan manfaat jangka panjang. Ke depannya, kawasan pesisir Holtekamp tak hanya menjadi tempat mencari ikan, tetapi juga diproyeksikan berkembang menjadi destinasi wisata bahari dan ruang edukasi lingkungan hidup. Dari abu yang tersisa, kehidupan baru kini bersemi di dasar laut Holtekamp. (Redaksi Topik)

  • Penulis: topik papua

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less