Menyembuhkan RSUD Dok II, Menegakkan Martabat Orang Papua
- account_circle topik papua
- calendar_month Kam, 6 Nov 2025
- visibility 417
- comment 0 komentar

Oleh: dr. Lanu S./ Pegiat Kesehatan Papua Tengah
Nabire, Topikpapua.com, – Suatu malam di Jayapura, angin dari Teluk Youtefa membawa seorang ibu dari pegunungan ke pelataran RSUD Dok II. Ia menggenggam anaknya yang sakit dengan kedua lengan yang kelelahan, namun batinnya tetap berani menantang maut.
Ia datang membawa satu-satunya yang tersisa: harapan. Tetapi sebelum napas anaknya diperiksa, pertanyaan pertama yang lahir justru tentang biaya. Administrasi berdiri seperti pagar besi, menghalangi cinta seorang ibu untuk masuk menyelamatkan yang ia sayangi.
Di ruang gawat darurat yang seharusnya bertindak secepat detak jantung seorang anak, prosedur justru meminta waktu. Dan waktu, seperti yang kita tahu, seringkali tega meninggalkan mereka yang datang terlambat membawa kesempatan. Ia akhirnya pulang dengan air mata yang menetes di sepanjang lorong. Dalam tangis itu, kita melihat luka yang lebih dalam daripada sakit fisik: martabat manusia yang tergelincir di lantai rumah sakit.
RSUD Dok II telah lama menjadi mercusuar kesehatan Papua. Di sanalah ribuan kisah tentang manusia yang ingin pulang dengan utuh bertemu setiap hari. Namun mercusuar itu kini meredup oleh beban yang bertahun-tahun tak tertangani: fasilitas yang menua, keterbatasan tenaga medis, birokrasi yang terlalu rumit untuk orang yang sedang menghadapi maut, serta ketidakpekaan sistem terhadap budaya Papua yang selalu menempatkan keluarga sebagai obat pertama sebelum obat apapun.
Masalah ini bukan soal kurangnya cinta dari para tenaga kesehatan. Mereka sudah memberikan lebih banyak dari yang bisa ditanggung bahu manusia. Tapi cinta yang bekerja sendirian pada akhirnya letih. Yang harus dibenahi adalah sistem yang lupa cara merawat kemanusiaan.
Rumah sakit seharusnya menjadi tempat paling aman kedua setelah pelukan ibu. Jika ia kehilangan sifat dasar itu, maka negara sedang abai pada ruang di mana hidup dan mati sering bertukar posisi begitu cepat.
Menyembuhkan RSUD Dok II bukan sekadar merenovasi bangunan atau membeli alat baru. Ini adalah pekerjaan spiritual sekaligus pekerjaan negara — mengembalikan kasih sebagai inti setiap keputusan pelayanan. Rumah sakit harus kembali menatap pasien seperti manusia dengan cerita yang perlu dilanjutkan, bukan sebagai kewajiban anggaran yang perlu dipenuhi laporan.
Birokrasi boleh mengatur, tetapi ia tidak boleh menentukan siapa yang berhak hidup lebih dulu. Teknologi harus hadir untuk mempercepat pertolongan, bukan memperpanjang antrean. Tenaga kesehatan perlu dirawat hatinya agar senyum mereka tidak padam oleh kelelahan yang tidak terlihat.
Dan karena Papua memiliki budaya yang kuat dalam hal merawat sesama, layanan kesehatan harus membuka ruang bagi pelukan keluarga, doa-doa dalam bahasa ibu, serta rumah singgah yang menenangkan kegelisahan mereka yang datang dari jauh.
Pada puncak tanggung jawab itu, kepemimpinan menjadi cahaya penuntun. Pemimpin rumah sakit mesti memiliki akal yang jernih, keberanian yang teguh, dan hati yang lembut. Ia harus hadir bukan hanya di ruang rapat, tetapi juga di ruang-ruang di mana pasien memeluk harapan terakhirnya dengan tangan gemetar.
Kelak, kita ingin melihat hari di mana seorang ibu dari pedalaman datang ke Dok II tanpa ketakutan lain selain sakit anaknya. Kita ingin melihat petugas menyambut dengan kepedulian yang lebih dulu bekerja daripada persyaratan. Kita ingin ruang-ruang perawatan dipenuhi kabar baik yang pulang ke kampung-kampung, mengatakan bahwa negara masih mendengarkan napas mereka satu per satu. Karena di tanah yang paling jauh sekali pun, harapan tidak boleh berhenti di depan pintu rumah sakit.
Ketika RSUD Dok II pulih, Orang Papua akan merasakan bahwa martabat mereka benar-benar dijaga — tanpa syarat, tanpa jeda, dan tanpa harus membuktikan bahwa mereka mampu membayar hidup mereka sendiri. Dan ketika itu terjadi, bukan hanya Papua yang sembuh. Bangsa ini pun sembuh — dari lupa yang terlalu lama, dari abai yang terlalu sering, dari logika pelayanan yang terlalu teknis dan kurang cinta.
Rumah sakit adalah cermin keberpihakan negara. Jika ia menunjukkan kasih, bangsa ini tampak lebih manusiawi. Jika ia memuliakan manusia, bangsa ini tampak lebih bermartabat. Maka mari bersama menyembuhkan RSUD Dok II — sebagai komitmen untuk memastikan bahwa di Tanah Papua, tidak ada harapan yang dibiarkan menangis tanpa pertolongan. (***)
- Penulis: topik papua




