Pesan Wagub Klemen Saat Peresmian Rumah Produksi Olahan Tepung Sagu
- account_circle topik papua
- calendar_month Rab, 15 Jul 2020
- visibility 343
- comment 0 komentar

Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal saat menggunting pita sebagai tanda diresmikannya Rumah Produksi Olahan Tepung Sagu dan Aneka Kue Sagu Kelompok Usaha Sentani Meer, di Kemiri, Kelurahan Hinekombe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura/Irf
Sentani, Topikpapua.com – Pemerintah Provinsi Papua selalu siap membantu siapapun masyarakat Papua, yang punya talenta dan ingin bekerja keras.
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur (Wagub) Papua Klemen Tinal, saat meresmikan Rumah Produksi Olahan Tepung Sagu dan Aneka Kue Sagu yang dirintis Kelompok Usaha ‘Sentani Meer’, di Kemiri, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (14/07/20).
“Kita resmikan ini sebagai stimulan atau rangsangan, point intinya, kami siap untuk membantu siapapun yang punya talenta dan mau bekerja keras,” kata Klemen Tinal yang didampingi Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap L. Ormuseray, SH, M.Si, Asisten I Bidang Pemerintahan Umum Setda Kabupaten Jayapura Abdul Rahman Basri, S.Sos, M.KP, sejumlah Kepala OPD di lingkup Pemprov Papua
Kata Klemen Tinal, Pembangunan rumah produksi olahan tepung sagu merupakan bantuan Pemprov Papua, dengan harapan dapat membawa manfaat buat Orang Asli Papua (OAP), khususnya mana-mama Papua yang ada di Kampung Kemiri
Selain itu, lanjut Klemen, Pemerintah Provinsi juga akan tetap mendukung usaha OAP. Sebagaimana yang disampaikan Asisten 1, Pemrov minta lima kampung dengan mayoritas penduduk OAP, untuk selanjutnya akan dilatih, diberikan modal dan fasilitas agar dapat diberdayakan dengan berbagai keterampilan dan usaha.
“Kita membantu serta membangun bersama-sama mereka dan pemerintah kabupaten, guna memastikan mereka bisa mandiri,” kata Klemen
Terkait dengan keberadaan rumah produksi olahan tepung sagu ini, lanjut Klemen menyediakan hasil produksi olahan tepung sagu dan aneka kue dari sagu berkemasan.
“Kami sangat berterima kasih kepada mama-mama, terutama dibawah pimpinan mama Yosepin Sokoy Suebu yang sudah 38 tahun jatuh bangun dengan usaha (olahan sagu) ini. Tapi, hari ini (kemarin) Pemerintah Provinsi Papua melalui pak Yan Ormuseray (Kepala Dinas Kehutanan) yang selama ini juga melihat hal ini, kemudian membantu dan kami dari pemerintah provinsi juga melihat ini adalah usaha dari Orang Asli Papua( OAP) yang wajib kami bantu,” ujar Wagub Papua.
Kata Wagub, mandiri itu bukan harus menjadi orang kaya, mandiri itu bukan punya uang banyak. Tapi, bagaimana dia bisa hidup dan punya saving.
“Karena orang kaya juga belum tentu ini, jangan tertipu oleh lihat dia kaya lalu pake dasi. Bisa-bisa hutangnya banyak dimana-mana atau hutangnya ada di bank. Jadi kita tidak perlu seperti itu, karena itu hanya kelebihan saja. Ya, harus mandiri dulu, dan urusan rumah tangga semua baik itu sudah mandiri,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap L. Ormuseray, SH, M.Si, dengan adanya rumah produksi olahan tepung sagu dan aneka kue sagu ini, merupakan bagian dari implementasi visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Papua.
“ Ini merupakan bagian dari implementasi visi gubernur dan wakil gubernur Papua. Jadi seusai dengan visi tersebut, rakyat Papua yang bangkit, mandiri, sejahtera dan berkeadilan,” paparnya.
Ia mengatakan, dengan rumah produksi olahan sagu kelompok usaha Sentani Meer yang dipimpin langsung oleh mama Yosephina Sokoy Suebu dan telah berjalan kurang lebih 38 tahun.
Dengan keterbatasan yang dialaminya, aktivitas usaha dari kelompok usaha tersebut dan baru berjalan pada Maret tahun 2019 lalu, saat terjadinya bencana alam banjir bandang.
Sehingga, atas arahan dari bapa gubernur dan wakil gubernur untuk pemberdayaan masyarakat asli Papua untuk mendukung pelaksanaan even PON, maka Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup melakukan pendataan kelompok-kelompok usaha masyarakat dan salah satu yang kami temui adalah mama Yosephina Sokoy Suebu.
“Disinilah, kami berikan support dan juga bantuan anggaran pada tahap pertama itu senilai 150 juta rupiah dari Pemprov Papua yang seusai dengan arahan bapa gubernur dan bapa wakil gubernur agar usaha ini bisa kembali berjalan,” tandas pria yang juga Ketua Umum Rukun Anak Tanah Merah dan Anak Peranakan Tanah Merah (ATM-APTM). (Irf)
- Penulis: topik papua


