Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » RAGAM » KESEHATAN » Fokus Perbaikan Pelayanan Kesehatan, Gubernur MDF Segera Hadirkan Rumah Sakit Terapung di Papua

Fokus Perbaikan Pelayanan Kesehatan, Gubernur MDF Segera Hadirkan Rumah Sakit Terapung di Papua

  • account_circle topik papua
  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • visibility 90
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Jayapura, Topikpapua.com, – Pemerintah Provinsi Papua menyiapkan langkah untuk memperluas akses pelayanan kesehatan hingga wilayah terluar melalui rencana pembangunan rumah sakit terapung.

Gubernur Papua Matius D. Fakhiri (MDF) mengatakan, rumah sakit terapung ditargetkan mulai direalisasikan pada 2027. Fasilitas tersebut nantinya diharapkan dapat membawa pelayanan medis lebih dekat kepada masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.

“Saya berdoa 2027 Pemprov Papua sudah punya rumah sakit terapung. Jadi tentunya para dokter harus siap untuk sama-sama saya di dalam rumah sakit terapung kita pergi melayani masyarakat Papua sampai ke area-area terluar,” kata MDF saat menghadiri 2nd Papua Surgical Update 2026 di Ballroom Suni Hotel Abepura, Kota Jayapura, Sabtu (26/9/2026).

Menurut MDF, penguatan sektor kesehatan merupakan fondasi penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Papua.

“Bicara sumber daya manusia Papua itu letaknya pada tenaga kesehatan. Kalau kesehatannya bagus, baru kita bicara pendidikan,” katanya.

Ia juga mendorong peningkatan fasilitas kesehatan di Jayapura, termasuk penguatan layanan kegawatdaruratan. Pemerintah daerah, kata dia, ingin memastikan pelayanan medis yang dibutuhkan masyarakat dapat tersedia di Papua sehingga pasien tidak harus berobat ke luar daerah dengan biaya besar.

“Saya tidak mau orang Papua keluar dari Papua harus dengan biaya mahal lagi. Harus semua dilakukan di Dok II, dan di Rumah Sakit Abepura,” tegasnya.

MDF juga menyampaikan gagasan menjadikan Papua, khususnya Jayapura, sebagai salah satu pusat pelayanan kesehatan di kawasan Pasifik. Upaya tersebut membutuhkan dukungan fasilitas, tenaga medis kompeten, serta kolaborasi berbagai pihak.

Ditempat yang sama. Ketua PABI Wilayah Papua, dr. Raja M.N. Sitorus, Sp.B, menilai kolaborasi menjadi kunci menghadapi tantangan pelayanan bedah di Papua.

“Kalau bekerja sendiri-sendiri itu tidak bisa,” ujar Raja.

Sementara itu, Ketua IDI Wilayah Papua dr. Nickanor Kaladius Reumi Wonatorey, Sp.U, mengatakan pemerataan dokter spesialis, keterbatasan fasilitas, kondisi geografis, keamanan, dan sistem rujukan masih menjadi tantangan pelayanan kesehatan.

2nd Papua Surgical Update 2026 berlangsung 25–26 September 2026 dan diikuti tenaga kesehatan dari enam provinsi di Tanah Papua. Kegiatan tersebut mencakup workshop dan simposium mengenai kegawatdaruratan bedah, trauma, cedera kepala, kanker, hingga pelayanan bedah tingkat primer. (Redaksi Topik)

  • Penulis: topik papua

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less