Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » PAPUA CERAH » Gubernur MDF Ungkap Pendekatan PMAAS Kunci Keberhasilan Panen Padi di Papua

Gubernur MDF Ungkap Pendekatan PMAAS Kunci Keberhasilan Panen Padi di Papua

  • account_circle topik papua
  • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
  • visibility 404
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Jayapura, Topikpapua.com, – Pemerintah Provinsi Papua mendorong mekanisasi pertanian Modern untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus mempercepat proses tanam hingga panen.

Gubernur Papua Matius D. Fakhiri (MDF) mengatakan, produktivitas padi di sejumlah wilayah Papua saat ini telah menunjukkan hasil yang tinggi. Rata-rata produksi disebut berada di atas 8 ton per hektare, sementara hasil tertinggi yang dilaporkan mencapai 12,8 ton per hektare.

“1 hektare di kota Jayapura sudah bisa hasilkan 8 ton. Kami juga di beberapa sawah di Keerom mampu capai 12,8 ton per hektare,” kata Fakhiri usai melakukan panen padi di Koya Timur, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Kamis (1/10/2026).

Menurut dia, capaian tersebut tidak terlepas dari penerapan berbagai pola tanam serta pendampingan kepada petani yang dilakukan pemerintah bersama Kementerian Pertanian.

MDF mengatakan, mekanisasi dengan pendekatan modern menjadi langkah penting agar pengelolaan sawah dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

Mekanisasi akan diarahkan mulai dari proses pembukaan lahan, penanaman, pemupukan hingga panen. Dengan demikian, waktu pengerjaan dapat dipangkas dan lahan bisa segera ditanami kembali.

“Buka sawahnya cepat, tanamnya cepat, pupuknya gampang, kemudian kita bisa panen juga dengan alat,” ujarnya.

Pemprov Papua juga meminta dukungan pemerintah pusat untuk pembangunan dan perbaikan sistem irigasi, termasuk penyediaan pompa air.

Dukungan tersebut dinilai penting karena Papua memiliki sejumlah wilayah dengan curah hujan yang memungkinkan kegiatan pertanian dilakukan sepanjang tahun.

Sementara itu, Kepala BRMP Papua Dr. Aser Rouw mengatakan pihaknya akan terus mendorong penerapan sistem pertanian modern untuk meningkatkan produksi beras di Papua. Dengan teknologi dan mekanisasi yang benar, Papua dinilai memiliki peluang mencapai swasembada beras dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Menurut Aset, Pendekatan yang digunakan di Papua adalah Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS). Sistem ini mengatur jarak tanam lebih rapat sehingga populasi tanaman dapat meningkat tiga hingga empat kali dibandingkan pola konvensional.

“Populasi yang meningkat itu kita dekati dengan manajemen yang presisi. Pemupukannya terukur, pemeliharaan juga terukur, dan full mekanisasi,” jelas Aser.

Menurut dia, penerapan sistem tersebut telah diuji melalui lahan percontohan seluas dua hektare. Hasil panen mencapai sekitar 8 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi padi Papua yang berada di kisaran 5 ton per hektare.

Capaian itu, kata Aser, menunjukkan masih terbuka peluang peningkatan produktivitas hingga 10–12 ton per hektare apabila teknologi, benih unggul, pemupukan, dan mekanisasi diterapkan secara optimal.

Menurutnya, Kementerian Pertanian saat ini menargetkan penerapan sistem tersebut secara nasional pada 1 juta hektare lahan. Papua mendapat alokasi sekitar 425 hektare.

Aser juga menyebut Papua memiliki lahan sawah baku sekitar 1.807 hektare, di luar lahan yang sedang dicetak. Jika seluruh lahan tersebut dioptimalkan dengan sistem pertanian PMAAS, produksinya diperkirakan dapat mencapai lebih dari 5.000 ton.

“Kalau cetak sawah selesai dan pendekatan yang sama diterapkan, dengan dukungan alat mesin pertanian, saya yakin Papua bisa swasembada 100 persen dalam dua sampai tiga tahun kedepan,” ujarnya.

Ia menekankan target tersebut membutuhkan kerja bersama BRMP, pemerintah provinsi dan kabupaten, BPS, Bulog, serta seluruh pemangku kepentingan pertanian.

Menurut Aser, jika produksi surplus tercapai, Papua bahkan berpeluang memasok beras ke wilayah sekitar, termasuk Maluku dan kawasan negara tetangga. (Redaksi Topik)

  • Penulis: topik papua

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less