Dicekal Ditjen Imigrasi, Tim Dokter Pribadi Beberkan Kondisi Terkini Gubernur Enembe
- account_circle topik papua
- calendar_month Rab, 14 Sep 2022
- visibility 140
- comment 0 komentar

Gubernur Papus Lukas Enembe saat menjalani pemeriksaan kesehatan/ist
Jayapura, Topikpapua.com, – Kondisi terkini kesehatan Gubernur Papua Lukas Enembe menjadi atensi khusus pasca dicekal ke luar negeri oleh Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM atas permintaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI pada 7 September 2022.
Dokter Anton Mote selaku dokter pribadi Gubernur Lukas Enembe membeberkan, saat ini kesehatan pasien yang sudah ditanganinya kurang lebih 10 tahun itu sedang dalam pengawasan secara intensif.
Dokter Mote menyebut Lukas Enembe mengalami bengkak di bagian kaki, dan itu artinya mengindikasi ada gangguan medis pada pasiennya tersebut.
Kata dia, dalam kurun waktu 6 bulan terakhir ini, Lukas Enembe mengidap beberapa jenis penyakit diantaranya stroke, diabet, tensi, jantung dan juga sedikit komplikasi pada ginjal.
“Jadi gejala-gejala penyakit yang seharusnya tidak muncul tapi kemarin muncul lagi, seperti bengkak pada bagian kaki. Nah pembengkakan ini adalah rangkaian reaksi dari beberapa penyakit yang sudah saya sebut tadi. Sehingga seharusnya beliau mendapatkan pelayanan medis yang tepat,” ungkap Dokter Anton dalam keterengan pers di salah satu hotel di Jayapura, Rabu (14/9/2022).
Gubernur Enembe, dijelaskan Dokter Anton, selama ini rutin melakukan kontrol kesehatan di salah satu rumah sakit yang ada di Singapura dan juga di Manila, Filipina. Begitu juga dengan obat-obatan yang diberikan para dokter, Gubernur Enembe rutin mengonsumsinya.
Lantas sebagai dokter pribadi, Dokter Anton hanya melengkapi pemeriksaan kesehatan yang sudah dilakukan dokter di Singapura dan Manila.
“Jadi kami hanya menindaklanjuti apa yang sudah ditangani para dokter di Singapura dan Manila. Kan pengecekan kesehatan yang seharusnya dilakukan Pak Gubernur itu di sana (Singapura dan Manila) tapi batal karena adanya surat pencekalan dari Ditjen Imigrasi,” katanya.
Dokter Anton sangat menyayangkan pencekalan terhadap Lukas Enembe. Karena sebelumnya Enembe sudah mengantongi izin berobat dari Kemendagri untuk bertolak ke Singapura dan Manila pada 12 September 2022 lalu.
“Jadi ya pengobatannya harus pending karena tidak bisa berangkat,” ucapnya.
Tim dokter pun masih berkoordinasi dengan kuasa hukum, Kemendagri dan juga KPK agar mencabut pencekalan itu, sehingga Gubernur Enembe bisa berangkat untuk melakukan pengobatan ke Singapura dan Manila karena peralatan medis yang lengkap.
“Beliau punya hak mendapatkan penanganan medis. Dan rencana berobat ini kan sudah direncanakan sebelumnya, karena memang waktunya untuk berobat,” terangnya.
Lantaran batal bertolak ke dua negara itu, alhasil, Dokter Anton pun harus lebih ekstra untuk melakukan pengawasan terhadap kesehatan Lukas Enembe. Apalagi peralatan kesehatan di Papua belum sebanding dengan yang ada di negara luar tempat Gubernur Papua berobat selama ini.
“Belau saat ini ada di rumah di kawasan Koya. Dan untuk melakukan beberapa pemeriksaan terpaksa kami harus melakukan konsultasi secara online dengan dokter di Singapura. Ya, mudah-mudahan malam ini atau besok siang saya sudah dapat hasil konsultasinya karena walaupun dokter pribadi tapi untuk secara spesialistik ya dokter di Singapura,” beber Dokter Anton.
Dugaan kasus gratifikasi yang disangkakan oleh KPK tentu berdampak signifikan bagi kesehatan Gubernur Enembe. Dokter Anton mengatakan, siapapun yang dalam posisi seperti itu, kondisi psikologi dan kesehatannya akan terganggu.
“Jangankan Pak Gubernur, kita saja yang sehat-sehat begitu mendapat ada tekanan pasti sudah mulai mengeluh sakit maag, asam lambungnya semakin naik. Kemudian juga pasti makan dan minumnya sudah tidak stabil. Nah apalagi beliau dengan posisi seperti ini,” tegasnya.
Dokter Anton dalam kesempatan itu meminta dukungan doa dari semua masyarakat Papua untuk kesehatan yang terbaik bagi Gubernur Enembe.
“Mohon dukungan doa dari seluruh masyarakat di tanah Papua agar ini boleh berjalan dengan baik. Ya walaupun saat ini beliau masih sehat, ya seperti ini masih baik tapi dengan tekanan yang cukup berat tentunya ini menimbulkan reaksi kesehatan yang kurang bagus,” ujarnya.
“Semoga KPK dan Kemendagri mempermudah beliau dalam menjalankan penanganan kesehatan di Singapura dan Manila yang beliau rutin lakukan. Kita tidak ingin tekanan yang beliau dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi lain, sehingga KPK dan juga kepada masyarakat mengetahui penanganan yang harus beliau dapatkan di rumah sakit Singapura,” imbuh Dokter Anton. (Redaksi Topik)
- Penulis: topik papua




