Kelangkaan Elpiji di Kota Jayapura, Ini Penjelasan Pertamina
- account_circle topik papua
- calendar_month Sel, 19 Apr 2022
- visibility 441
- comment 0 komentar

Ilustrasi kelangkaan Elpiji / ist
Jayapura, Topikpapua.com, -Konsumen gas elpiji di Kota dan Kabupaten Jayapura, Papua, dalam satu pekan terakhir mengaku kesulitan mendapat pasokan gas lantaran stoknya sempat mengalami kekosongan di banyak pangkalan.
Kendati pada Sabtu (16/4/2022), pasokan elpiji di beberapa pangkalan sudah mulai tersedia, namun harganya melonjak drastis.
Nur Lilis, warga di Kelurahan Vim, Distrik Abepura, mengaku sempat tak dapat elpiji, namun sehari setelahnya pasokan gas sudah mulai tersedia.
“Jadi, pas Jumat (15/4/2022) itu gas di rumah saya habis, sudah cari ke dua SPBU dan beberapa toko yang biasa jual di wilayah Kotaraja-Abepura, tapi stoknya kosong. Kemudian Sabtu (16/4/2022) pagi pas pasokan mulai masuk, tapi harganya naik lagi, ya dari Rp 170 ribu jadi Rp 185 ribu untuk yang tabung 5 KG,”ungkapnya, Selasa (19/4/2022).
Kondisi yang sama juga dialami Yanto, warga Distrik Heram, Kota Jayapura. Dia mengaku sempat kesulitan mendapat elpiji.
Ia pun akhirnya bisa membeli elpiji tabung 12 kg dengan harga Rp 345 ribu.
“Saya dapat di toko depan Universitas Terbuka, harganya Rp 345 ribu. Menurut saya, tidak apa-apa sih harga naik, yang penting stoknya ada,” tutur Yanto.
Sementara Riri, warga Pasar Lama Sentani, Kabupaten Jayapura, juga kesulitan mendapat elpiji. Riri pun menyayangkan hal itu, karena harga jual elpiji di wilayahnya tergolong mahal ketimbang yang ada di Kota Jayapura.
“Saya biasa beli di Toko Sinar Aneka, tabung 5 kg harganya Rp 200 ribu,” kata dia.
Berbeda dengan Riri dan lainnya, Reski, warga Jayapura Utara justru mengaku sempat tidak bisa mendapatkan elpiji hampir selama sepekan.
Ia pun menyayangkan kondisi tersebut, mengingat PT. Pertamina sempat mengeluarkan pernyataan di media bahwa stok elpiji di Jayapura aman.
“Tapi yang saya alami justru kebalikannya. Selama satu minggu saya tidak dapat gas, baru dapat di Kotaraja Rp 325 ribu (tabung 12 kg), itu saja waktu saya beli stoknya tinggal beberapa tabung saja. Harapan saya, Pertamina kalau hilang stok aman harus sinkron dengan di lapangan, kita mengerti kalau harga naik tapi stoknya harus dijaga,” pesan Reski.
Merespon hal tersebut, PT. Pertamina MOR VIII Maluku-Papua menjelaskan, berdasarkan data yang ada, bahwa tidak pernah ada kekosongan stok elpiji sehingga informasi mengenai kelangkaan gas di tengah masyarakat cukup mengejutkan.
“Seharusnya tidak ada kekosongan pada minggu-minggu sebelumnya, makanya aneh kawan-kawan menginfokan sulit (mendapat elpiji),” ujar Unit Manager Communication, Relations and CSR MOR VIII PT Pertamina (Persero), Edi Mangun, Selasa.
Diakuinya, penjual elpiji, khususnya pangkalan dan SPBU, sempat terjadi kekosongan stok namun tidak berlangsung lama.
“Kosong itu paling satu-dua hari habis itu saya minta diisi stoknya,” kata dia.
Terkait kenaikan harga, Edi pun meyakini hal tersebut bukan secara sengaja dilakukan oleh penyalur resmi Pertamina.
Menurutnya dengan pembangunan Stasiun Pengisian Baban Bakar Elpiji (SPBE) di Kabupaten Jayapura yang sudah masuk tahap akhir, maka seharusnya kenaikan harga justru bisa ditekan.
“Seharusnya ketika SPBE akan beroperasi karena sekarang sudah conditioning, artinya harga akan turun, artinya indikasi (penimbunan untuk menaikan harga) tersebut tidak akan ada karena setiap agen. dan pangkalan akan berusaha menghabiskan stok,” tuturnya.
Ia mengklaim masalah kekosongan stok elpiji di beberapa lokasi di Jayapura, bukan hal yang rutin dan disengaja.
Edi menganggap hal tersebut sama dengan apa yang sempat terjadi pada stok solar.
“Saya yakinnya ke arah anomali seperti yang sekpat terjadi pada solar, sekarang sudah tidak ada lagi antrian di SPBU,” kata dia.
Edi lantas mengimbau agar masyarakat tidak perlu panik ketika tidak dapat menemukan stok elpiji dilapangan dan melaporkannya ke Pertamina. (Redaksi Topik)
- Penulis: topik papua




