dr. Jhon Manansang dan suplemen Purtier Placenta / Istimewa

Sentani, Topikpapua.com, -Belakangan beredar informasi di tengah masyarakat yang mengatakan obat bahwa obat ARV (antiretroviral) untuk pasien Human Immunodeficieny Virus (HIV) atau ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) akan diganti dengan suplemen Purtier Placenta.

Menangapi kabar tersebut, Redaksi Topik mencoba  mengklarifikasi kebenaran informasi kepada salah satu anggota Team Elite PAVO Papua di perusahan Riway International di Singapura yang memproduksi Purtier Placenta Sixth Edition, dr Jhon Manansang.

” Memang benar ada obat/suplemen baru yang namanya Purtier Placenta , namun kehadiran Purtier Placenta itu bukan untuk mengganti ARV, Tapi, hanya sebagai pendukung dari ARV,” Jelas dr. Jhon Manansang saat ditemui Redaksi Topik di Kediamannya belum lama ini.

Menurut dr Jhon, produk Purtier Placenta yang diproduksi dari New Zealand ini di organisir oleh perusahaan Riway International yang ada di Singapura dan sampai hari ini sudah 80 negara yang mengkonsumsi Purtier Plasenta.

 ” Dari 80 Negara di dunia, Indonesia merupakan negara kedelapan yang mengkonsumsi atau merima Purtier Plasenta sebagai salah satu solusi kesehatan bagi ODHA,” ungkap dr Jhoon.

Dirinya menyebutkan, isi Purtier Placenta yang dalam bentuk kapsul itu salah satu kandungan zatnya adalah steamcell 100 mg ditambah 12 bahan-bahan alami atau herbal.

“Isinya menurut saya, dari ilmu pengetahuan yang saya baca atau yang saya ketahui, ini memang sebuah produk dengan nilai yang sangat unik dan sangat luar biasa. Dia (Purtier Placenta) bisa memberikan peningkatkan kekebalan (imunitas), dia juga bisa memperbaiki sel-sel yang rusak dan sel-sel yang mati bisa dihidupkan kembali,” bebernya.

Jhon menilai, manfat dari Kapsul itu sangat bagus untuk hal-hal pada pasien-pasien yang memang di dalam tubuhnya mengalami kematian sel secara permanen. Sebagaimana dalam kasus gagal ginjal, diabetes mellitus, dan juga kematian sel akibat inveksi HIV yang mematikan T-limfosit atau sel kekebalan tubuh manusia.

Beberapa waktu lalu, dr Jhon mengisahkan bila produk Stemcell tersebut di berikan ke salah satu pasienn nya yang datang dengan keluhan inveksi HIV dan merasa bosan atau jenuh minum obat ARV.

“Pasien yang pertama saya tangani itu, dia pasien yang telah minum ARV selama tiga tahun. Karena berhenti minum ARV, sehingga kondisinya drop dan saat hendak kembali meminta ARV ke pusat layanan ditolak. Karena kondisi HIV/AIDS-nya sudah mencapai stadium tiga, sehingga tidak bisa minum lagi obat ARV ini. Nah, Dalam kondisi tersebut dan tidak minum obat apa-apa, saya suruh dia untuk mencoba produk Purtier Stimcell dan ternyata keesokan harinya mulai ada semangat dan perubahannya begitu cepat, sehingga satu minggu kemudian disarankan kembali ke pusat layanan untuk kembali mendapatkan ARV,” beber dr Jhon.

Lanjutnya, Setelah diperiksa apakah pantas untuk kembali mengkonsumsi ARV, dia dinyatakan berhak untuk mendapatkan ARV karena kondisinya sudah membaik. “ Jadi anjuran kita dia harus tetap minum ARV nanti malam sebelum tidur kita suruh minum purtier placenta sebagai pendukung untuk menambah kekebalan tubuh serta sel-sel yang sebelumnya telah mati,” jelas dr Jhon yang juga salah satu member dari produk tersebut.

Dari pengalaman tersebut, dr Jhon kemudian menginformasikan ke pengurus KPA Provinsi Papua, “ kejadian itu saya Laporkan ke pemerintah, laporkan ke dinas kesehatan, laporkan kepada semua institusi yang terkait. Supaya coba lihat, ini peluang ini baik atau tidak,” jelas dr Jhon.

Walau demikian dr Jhon mengaku bila ARV adalah lini primer (lini pertama) untuk pengobatan menekan virus. Sedangkan produk Purtier Plasenta sebagai penunjang/pendukung terhadap harapan pasien untuk mendapat kesembuhan.

 “Nah ini mimpi dari saya. Suatu ketika dunia ini mengetahui bahwa ada obat atau ada kombinasi obat yang bisa menyembuhkan orang dari HIV. Dia harus sembuh supaya dia kembali kepada keluarga yang normal,” lanjut Jhon Manansang.

Masalah harganya yang mahal, diakui produk tersebut barang mahal, karena hidup orang Papua mahal.

“Untuk hidup ini mahal. Apalagi pak Gubernur bilang, “Selamatkan yang sisa dari yang tersisa”. Yang tersisa sedikit stok itu sangat mahal,” imbuhnya.

Legal kah Suplemen Purtier Placenta…??

Disinggung tentang legalitas yang disebut Balai Besar POM Jayapura belum teregister, hal itu ditepis oleh dr. Jhon Manansang, karena menurut nya, Purtier Placenta sudah ada di lima wilayah di Indonesia, dan sangat terbuka di Jakarta dan dimana-mana.

“Kenapa sampai yang edisi keenam ini belum terlabel nomor, karena masih diperiksa. Dia kan baru selesai di edisi kelima, baru masuk di edisi keenam ini baru beberapa bulan terakhir ini. Itu Balai Besar POM belum selesai memeriksa. Kalau sudah selesai pasti akan dikasihi nomor register,” paparnya.

Dikatakan, target dari perusahaan Riway selaku produsen Purtier Stemcell adalah bagaimana bisa memberikan nomor Balai Besar POM yang konstan untuk beberapa waktu kedepan.

“Karena kita tiap dua tahun sudah ubah, untuk menghindari pemalsuan dan juga menghindari masa expired (kadaluwarsa),” bebernya.

Sehingga ditekankan bahwa terkait situasi yang terakhir berkembang di wilayah Kota Jayapura dan Papua pada umumnya bahwa seolah-olah kehadiran Purtier Placenta akan menggantikan ARV, adalah satu pandangan yang keliru.

“Karena ARV dengan Purtier Placenta merupakan dua produk atau dua zat yang berbeda. Sebagai seorang medis sangat mengerti, ARV diperuntukkan untuk menekan atau merepresi virus HIV. Itu jelas sekali, dan itu merupakan prioritas primer dalam penanganan HIV di seluruh dunia,” Pungkas dr Jhon Manansang. (Irf/RT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here