Polemik Purtier Placenta Bagi ODHA, Ini Komentar KPA Papua

0
Ketua Harian KPA Papua, Yan Matuan beserta anggota saat memberikan keterangan pers di kantor KPA / ist

Jayapura, Topikpapua.com, – Ketua harian Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Papua, Yan Matuan mengatakan suplemen Purtier Placenta yang di illegalkan oleh Polda Papua karena belum memiliki ijin dari Balai POM ternyata sudah dijual bebas di 80 negara.

Yan Matuan juga menjelaskan bila di Indonesia suplemen tersebut juga sudah di jual bebas di 8 daerah.   

” Purtier ini bukan KPA saja.., barang ini sudah Multi Marketing, sudah bebas..,  suplemen ini sudah banyak beredar ya.., di dunia sudah ada 80 negara yang mengkomsumsi bebas, sana sini jual suplemen itu, di Indonesia bahkan sudah ada 8 daerah yang sudah bebas jual, ” Ungkap Yan kepada Pers di Jayapura, Selasa (04/02/20).

Menurut Yan, yang menjadi masalah adalah untuk purtier edisi ke enam, yang hingga kini belum juga mendapat ijin edar dari Balai POM Papua.

” Yang di persoalkan disini kan edisi 6 ini belum ada ijinnya, belum ada ijin dari balai POM kenapa sudah beredar, itu di papua ini, tapi di daerah lain tetap jalan terus.., kenapa hanya di papua saja ini menjadi persoalan, ” Beber Yan.

Lanjutnya, kalau masalah ijin itu, untuk edisi ke lima itu ijin nya sudah ada, yang persoalannya yang edisi keenam ini memang ijin nya belum keluar karena ada beberapa item yang belum di periksa, karena harus tiga tahun dulu di periksa, sementara kalau tunggu sampai 3 tahun obatnya bisa kadaluarsa.

” Persoalannya ini.., hari ini jangan buta.., kita di Papua ini ada otonomi khusus, dan gubernur bilang banyak orang sakit masalahnya, apakah kita harus tunggu balai POM ini kasih ijin dulu, sementara orang-orang sudah mati semua.., kan masalahnya disitu, “Jelas Yan.

Diakui Yan bila KPA membeli Purtier untuk membantu para penderita HIV/AIDS di Papua atas perintah dari Bapak Gubernur Papua, ” inikan perintah dari bapak gubernur, kalau dana yang di alokasikan buat kami di KPA lebih banyak di alokasikan untuk pembelian purtier dan para pasien, ” Tukas Yan.

Disinggung soal efek penggunaan Purtier oleh para pasien yang mengambil Purtier dari KPA, Yan mengaku bila pihaknya hingga kini belum mendapat laporan ada korban yang meninggal dunia.

” Ada beberapa data yang kami dapati dari pasien, ada beberapa yang mengaku ada perkembangan setelah mereka mengkomsumsi purtier ini, Purtier ini sifatnya menolong.., kalau masalah sembuh total itu biar nanti dokter yang menjawab, ” Terang Yan.

Yan juga mengaku bila hingga kini pihaknya masih menyiapkan Purtier bagi siapa saja yang merasa mau atau cocok mengkomsumsi suplemen tersebut.

” Jadi siapa saja yang datang dan rasa cocok dengan purtier kami kasih saja, gratis dan ini tidak bayar, kalau yang sudah komsumsi purtier itu sekitar 700 san orang.., jadi misalnya kalau ada yang lapor ada orang meninggal kami di KPA bisa cek di data kami, apa betul obat itu dari kami, karena saat kami kasih itu ada berita acara, “Beber Yan.

Suplemen Purtier Placenta Edisi keenam / ist

Sebelumnya, Pihak Polda Papua memeriksa dokter Jhon Manansang terkait dugaan peredaran suplemen Purtier Placenta edisi ke enam yang ternyata belum mengantongi ijin edar dari Balai POM.

dorter Jhon juga di periksa terkait adanya aduan masyarakat yang mengaku setelah mengkomsumsi purtier kondisi kesehatan mereka justru memburuk, bahkan berdasarkan keterangan pihak polda Papua sudah empat orang di laporkan meninggal dunia setelah mengkomsumsi Purtier.

Selain mengedarkan Purtier yang belum memiliki ijin edar dari Balai POM, dokter Jhon juga di periksa terkait ulasan nya di beberapa seminar dan tulisannya di buku yang menyatakan purtier dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS.

” Ada beberapa orang yang juga mengedarkan barang ini tapi sebagai suplemen, tetapi untuk dokter manansang mengedarkan barang ini dengan pengakuan ini adalah obat pengganti ARV yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS, bahkan meyakinkan konsumennya lewat tulisan nya di buku dan di berbagai seminar yang mengatakan bahwa plasenta ini adalah obat HIV, sedangkan kami verifikasi ternyata hanyalah suplemen, ” Kata Kanit I Sub Dit Indagsi Reskrimsus Polda Papua, AKP. Komang Yustrio Wirahadi kepada Redaksi Topik, Senin (03/02/20).

AKP Komang juga menjelaskan bila dari penyelidikan kasus ini, terungkap jika Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Papua pernah melakukan lelang pengadaan suplemen Putrier Placenta dengan menggunakan dana hibah yang diberikan Pemerintah Provinsi Papua, sebanyak dua kali.

“Kami juga sudah klarifikasi pihak KPA. Nilainya kurang lebih Rp 1,8 miliar. Penyelidikan dugaan penyalahgunaan dana hibah ini nanti menjadi kewenangan teman-teman di tipikor atau Kejaksaan. Kami hanya fokus di ijin edar obat ini,” jelas Komang.

Saat di konfirmasi kepada KPA Papua soal berapa banyak dana yang sudah KPA gelontorkan untuk membeli Purtier, Pihak KPA enggan membeberkan jumlah dana yang sudah di pakai untuk membeli Purtier.

” Terkait dengan berapa besar dana yang kami pakai untuk beli purtier itu ada prosedurnya.., itu pertanggungjawabannya semua ke pak Gubernur, jadi kita urusannya kepada pak gubernur saja, kenapa itu Polda paksa-paksa tanya berapa uang yang keluar, kan tidak bisa seperti itu karena kita juga jaga jangan sampai orang serang kita, ” Tukas Yan Matuan. (Redaksi Topik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here