Offisial Persimer Merauke saat melayangkan protes kepada pengawas pertandingan / artha

Jayapura, Topikpapua.com, – Pertandingan babak semifinal liga 3 zona Papua antara Persigubin versus Persimer yang dibgelar di stadion Mandala Jayapura, Kamis (16/12/21) diwarnai sejumlah protes keras.

Aksi protes dilayangkan Pemain dan official Persimer Merauke terhadap wasit yang memimpin pertandingan.

Pertandingan awalnya berjalan lancar hingga babak pertama berakhir dengan keunggulan 1-0 untuk Persigubin.

Gol Libertus Kaleyala di menit 23′ membawa Persigubin sementara unggul atas Persimer Merauke.

Namun, memasuki babak kedua pelanggaran terjadi di dalam kotak pinalti Persigubin, tetapi sang pengadil lapangan tidak menunjuk titik putih untuk memberikan tendangan 12 pas bagi Persimer. Sehingga para pemain dan pelatih melakukan protes kepada wasit.

Selepas kejadian itu, Persemar Merauke berhasil menyamakan kedudukan 1-1 setelah Welje Virgil Nauset mencetek gol menit 61′.

Namun, gol Yohanes Epivianey A. Kimkulin di menit 72′ membawa Persigubin unggul 2-1.

Saat laga tinggal beberapa menit Persemar Merauke berhasil menyamakan kedudukan sama dua setelah pemain bertahan Hilarius Paulinus Kambun memaksa Martinus S. Ningmabi memaksa memungut bola dari gawangnya pada menit 90+2.

Pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu 2×15 menit setelah skor sama kuat 2-2.

Laga ini juga sempat dihentikan akibat para pemain Persimer Merauke merasa kurang puas dengan beberapa keputusan wasit yang dianggap tidak adil.

Akan tetapi laga kembali dilanjutkan setelah kedua tim bersepakat untuk menyelesaikan sisa waktu pertandingan.

Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh Persigubin dengan skor akhir 3-2. Dengan hasil ini Persigubin melaju ke babak final

Usai pertandingan pelatih Persimer Merauke Eduard Ivakdalam menilai ada indikasi yang mana wasit tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

“Saya kira tadi pertandingan awalnya berjalan baik-baik saja sampai babak pertama berakhir semua berjalan lancar-lancar saja,” ungkap Kaka Edu

“Tapi di babak kedua di sini saya nilai ada indikasi. Saya lihat wasit tidak nenjalankan tugasnya sebagai seorang wasit yang seharusnya pemimpin di tengah lapangan yang bisa mengatur situasi pertandingan berjalan baik, dia tidak bisa mengatur itu dengan baik,” Jelasnya.

Ia mengatakan, ada beberapa pelanggaran yang harusnya wasit bisa mengambil keputusan namun semua tidak dilakukan.

“Itu (pelanggaran) terjadi di depan mata wasit. Sehingga pasti ada sedikit kekesalan dan kita merasa dirugikan,” katanya.

Ia bahkan menyorti keputusan wasit saat terjadi pelanggaran sebelum terjadinya gol ketiga tim Persigubin.

Menurut legenda hidup Persipura Jayapura itu, gol kemenangan Persigubin di babak perpanjangan waktu 2×15 menit terjadi setelah pemain salah satu persigubin menendang tangan kiper (penjaga gawang) sehingga bola terlepas dari tangan.

“Ini terjadi di depan mata hakim garis dan hal ini harus dievaluasi jangan wasit yang dulu punya sampai sekarang sama saja kinerjanya. Harusnya anak-anak muda seperti wasit ini tahu aturan yang benar itu seperti apa,” katanya.

“Buat saya ini yang harus menjadi bahan evaluasi mau koordinator wasit dan semuanya sama tidak bisa memimpin organisasinya itu untuk menjadi penengah yang baik memimpin sebuah pertandingan,” ucap Kaka Edu.

Terlepas dari kontrovesi wasit, Kaka Edu beranggapan tim manapun yang akan lolos untuk mewakili Papua di tingkat Nasional itu merupakan tim yang terbaik. Sehingga harus mempertanggung jawabkan apa yang diraih sebagai juara zona Papua.

Sementara itu, ketua umum Persigubin Kris B. Uropmabin mengatakan, hasil keputusan yang diambil seorang wasit adalah mutlak meski tadi ada beberapa keputusan yang dinilai oleh tim Persimer Marauke tidak adil.

“Wasit juga manusia biasa dan tidak sempurna tetapi keputusan yang di ambil itu mutlak dan harus diterima dengabn lapang dada,” kata Kris. (Artha)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here