Direktur RSUD Jayapura drg. Aloysius Giyai, M.Kes/Dok

Jayapura, Topikpapua.com – “Kami bukan menolak pasien, tapi kami minta dirujuk ke rumah sakit lain,” demikian sanggahan  Direktur RSUD Jayapura drg. Aloysius Giyai, M.Kes, Rabu (24/06/20)

Tanggapan itu menyusul aksi demo dan sorotan masyarakat terhadap kematian pasien Hanafi Retob, yang diduga terlambat penanganan akibat ditolak beberapa rumah sakit, pasca kecelakaan di depan Bank Indonesia, APO, Selasa kemarin.

Almarhum Hanafi, diketahui menghembuskan napas terakhirnya di RS Dian Harapan, setelah sebelumnya sempat bawa ke RS Provita Jayapura, RS Marthen Indey, dan RS Bhayangkara termasuk RSUD Dok II.

Mantan Kadis Kesehatan Papua ini mengatakan, alasan pihak Rumah Sakit meminta agar korban Hanafi dirujuk, lantaran ruangan Orthopedi, yang biasanya di gunakan untuk penanganan kecelakaan, ditutup sejak beberapa hari belakangan.

“Ruangan itu ditutup, ada perawatnya yang terpapar, semua petugasnya sedang kami isolasi semua. Jadi ruangan itu sedang kami sterilkan dengan disinfektan, baru kami buka,” kata Aloysius Giyai

Atas nama direksi dan semua petugas medis, lanjutnya, memohon maaf sebesar-besarnya kepada keluarga korban. Namun ia menegaskan, tidak ada unsur kesengajaan dari petugas medis dalam insiden ini.

“Jadi bukan ditolak tapi kami sarankan ke rumah sakit lain. Tetapi kemarin saya sudah kumpulkan semua unit layanan bahwa ke depan, apapun kondisinya, tidak boleh ada penolakan pasien. Harus ditangani dulu. Ini jadi evaluasi bagi kami, semoga ada perbaikan ke depan,” kata nya.

Ia menjelaskan, akibat penanganan pasien Covid -19 di Kota Jayapura, membuat pelayanan untuk pasien lain agak kurang cepat. Hal ini juga terkait dengan petugas medis, yang sebagaian besar terpapar  sebagian ada yang sudah terpapar. Sementara tuntutan dari mereka harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang seragam.

Namun karena Covid ini adalah wabah, maka ia meminta seluruh petugas medis di seluruh unit layanan untuk tidak menolak pasien yang dalam kondisi emergency. Pelayanan harus dilakukan, kendatika APD terbatas karena hal ini sudah menjadi sumpah profesi sebagai tenaga medis.

 “Dari pertemuan kemarin, saya sudah minta semua ruangan itu dibuka. Kami sudah tegaskan agar kepala ruangan apapun keadaannya, harus dicari solusi agar tetap dibuka dan harus sesuai dengan petunjuk dari pimpinan,” katanya.

Sementara sekertaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr Silwanus Sumule mengatakan akan berupaya memperbaiki pelayanan di rumah sakit pemerintah daerah.

“Akan kami perbaiki lagi pelayanan di rumah sakit pemerintah yang ada, namun memang di masa covid ini banyak masalah yang kami hadapi, sehngga ada yang miss disana, tapi nanti akan kami perbaiki, “Kata Sumule, di tempat berbeda.

Informasi terakhir, keluarga dan OKP Kelompok Cipayung berdemonstrasi di depan DPRD Kota Jayapura dan Kantor Dinas Kesehatan Papua terkait insiden penolakan pasien tersebut. (Redaksi Topik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here