Caption Foto : Marinus Yaung/foto ist

Jayapura, Topikpapua.com, –  Pakar Hubungan Luar Negeri Provinsi Papua sekaligus Akademisi di Univesitas Cenderawasih, Marinus Yaung secara tegas menyebut isu Bendera Bintang Kejora dan Papua Merdeka adalah isu penjerumusan dalam lubang kehancuran oleh korporasi jahat yang ingin membunuh mayarakat Papua.

Marinus membeberkan, isu dengan sengaja terus digiring oleh negara-negara luar yang haus kekayaan dan ingin mengeruk limpahan harta dari Bumi Cenderawasih bersama pihak Jakarta, termasuk lobi Benny Wenda, United Libertion Movemant off West Papua (ULMWP) diluar negeri.

“Papua kalau punya peluang untuk merdeka dari NKRI, saya Marinus Yaung akan berdiri mendukung perjuangan Papua. Tetapi saya sudah pelajari geopolitik dan geostrategi regional pasifik dan Internasional, sulit bagi Papua untuk merdeka. Isu Papua, Benny Wenda, ULMWP, hanya bagian dari geostrategis negara – negara major power kawasan Pasifik dan Afrika untuk mewujudkan kepentingan mereka di Indonesia,”tegas Marinus Rabu (1/12/2021).

Menurut dia, dukungan semu atau standar ganda negara luar seperti yang dilakukan Negara Australia.  Australia menghormati Lombok Treaty dengan Indonesia, tetapi dia membiarkan kota – kota besarnya seperti Melbourne, Canberra, dan Sydney sebagai basis politik nasionalis Papua dan kampanye politik mereka.

“Australia bermain politik standar ganda dalam isu Papua karena Australia berkepentingan menjaga kepentingan Inggris di LNG Tangguh Bintuni, dan kepentingan Amerika Serikat di Freeport Mimika, Papua. Jadi ini adalah mainannya mereka,”cetusnya.

Masih dikatakan Marinus, secara logika, orang Papua ditangkap, orang Papua di bunuh karena isu Papua merdeka, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat berpesta pora menguras habis isi perut bumi Papua bersama koorpiorasinya di Jakarta.

“Masyarakat Papua jika rendah literasinya, kita terancam hidup dalam neokolonialisme modern yg sedang dilakukan oleh para koorporasi internasional dan nasional di Papua. Saya kuatir, karena rendahnya literasi masyarakat Papua, isu Papua merdeka dan isu bintang kejora merampas masa depan Papua,”bebernya.

Ditegaskannya lagi, isu bintang kejora dan Papua merdeka hanya sebuah kamuflase dan manipulasi para koorporasi jahat ini untuk membunuh masa depan orang Papua. Orang Papua akan dibuat menghabiskan waktu dan energinya dan lupa mengembangkan diri untuk lebih baik.

“Jangan habiskan waktu dan energi sia – sia untuk isu Papua merdeka dan bintang kejora. Tingkatkan budaya literasi kita agar lahir generasi Papua yang produktif, berkualitas dan berkompetensi untuk membentuk masa depan Papua di era disrupsi teknologi dan informatika yang sangat kompetitif,” saran Marinus.

Menurutnya, Papua masih akan bersama Indonesia untuk 20 tahun ke depan. UU Otsus Papua kontrak politik dan kontrak bernegera orang Papua dengan Pemerintah Indonesia yang sah dan kuat legal standingnya di mata hukum nasional dan internasional.

Selanjutnya terkait aksi pengibaran Bendera Bintang Kejora di GOR Cenderawasih pada 1 Desember 2021, Marinus menyebut jika Papua adalah Tanah Merah Putih bukan Bintang Kejora dan final sejak 19 November 1969.

“Tanah Papua sudah sah dan final di mata hukum internasional. Kalau Bintang Kejora mau dipaksakan mengganti Merah Putih, maka tindakan tersebut dianggap melanggar hukum internasional dan piagam PBB, dan aparat keamanan akan bertindak tegas menegakkan aturan terhadap aksi – aksi nasionalisme sempit dibalik pengibaran bintang kejora itu,”tandasnya. (Redaksi Topik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here