Kapolda Papua Irjen Polisi Mathius D Fakhiri didampingi Bupati Yahukimo Didimus Yahuli/foto istimewa

Jayapura, Topikpapua.com, – Kapolda Papua, Irjen Polisi Mathius D Fakhiri memastikan, proses hukum kasus kericuhan yang terjadi di Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua pada Minggu 3 Oktober 2021 akan dituntaskan tanpa pandang bulu.

Fakhiri mengaku bahwa polisi juga sudah menahan 56 pelaku kericuhan yang salah satunya adalah tokoh KNPB, Ruben Wakla, bahkan jumlah tersangka kini sudah bertambah. Aparat kepolisian pun masih terus berusaha mengejar pelaku utama dan aktor intelektualnya.

“Tersangka sudah 24 orang, tadi ditangkap dua lagi, semuanya sedang berproses. Masih ada satu aktor utama yang belum ditangkap di Yahukimo, saya sudah perintah kapolres untuk tangkap, ada juga aktor intelektualnya,” kata Fakhiri di Dekai, Papua, Jumat (8/10/2021).

Jenderal polisi bintang dua ini juga menegaskan, penyebab kericuhan karena kematian mantan Bupati Yahukimo, Abock Busup, namun hal itu tidak membuat aparat keamanan berhenti memproses kasus tersebut.

Menurutnya, ada pembelokan budaya yang sengaja diciptakan oleh oknum tertentu sehingga muncul kericuhan.

“Ini ada pemahaman yang salah, tidak ada budaya di Papua saat ada yang meninggal lalu ujungnya membakar gereja dan rumah-rumah, saya orang Papua saya memahami adat Papua, di Tanah Papua tidak ada budaya seperti itu,” tegasnya dalam penanganan kasus ini, polisi tidak hanya menggunakan KUHP namun juga akan menggunakan UU ITE.

“Saya minta maaf tidak ada ampun bagi semua yang menjadi pelaku kericuhan Yahukimo,” timpalnya.

Fakhiri mengungkapkan, ada opsi untuk menahan para pelaku utama kericuhan Yahukimo di luar Papua.
Opsi ini guna menimbulkan efek jera bagi siapapun agar tidak mengulangi hal yang sama.

“Khusus untuk kepolisian kita akan tegas dalam melakukan penindakan hukum, tidak akan ada pamdang bulu sampai kepada otak-otak pelakunya. Para aktornya akan diperiksa di Jayapura, kalau perlu mereka bisa ditahan di luar Papua supaya ini bisa menjadi efek jera bagi semua masyarakat yang ada di Papua,” terangnya.

Selanjutnya Fakhiri mengaku telah melihat langsung lokasi kericuhan dan tempat pengungsian masyarakat.

“Saya sudah melihat langsung Gereja Gidi yang jadi sasaran pertama penyerangan dan ada empat rumah yang dibakar termasuk rumah pendeta. Dan di tempat ini lah korban-korban pertama (jatuh), baik meninggal maupun yang luka,” bebernya.

Diketahui kericuhan di Yahukimo terjadi pada Minggu siang. Saat itu sekelompok masyarakat dari Suku Kimyal menyerang masyarakat Suku Yali yang tengah beribadah di gereja.
Akibat penyerangan itu, enam warga tewas dan 43 orang lainnya luka-luka. Sedangkan 10 orang diantaranya sudah dievakuasi ke Jayapura untuk mendapat perawatan medis lanjutan. (Redaksi Topik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here