Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano saat perpisahan pelepasan KM Tidar/foto istimewa

Jayapura, Topikpapua.com, -Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano selaku Ketua Satgas Covid-19 menyampaikan terima kasih kepada KM Tidar yang sudah menjadi tempat isolasi terapung (isoter) selama dua bulan bagi masyarakat Kota Jayapura hingga atlet PON XX Papua.

Dalam kesempatan itu, BTM mengatakan untuk mengantongi izin mendapatkan KM Tidar sebagai rumah sakit terapung ini sangat membutuhkan proses yang begitu panjang. Saat itu, diakui dia, Pemerintah Kota Jayapura harus mengirim surat kepada Kementerian Perhubungan melalui Dirjen Perhubungan Laut untuk mendapatkan pelayanan rumah sakit terapung bagi Kota Jayapura. Dan akhirnya, Kota Jayapura sebagai salah satu dari tujuh kota di Indonesia diberikan KM Tidar oleh pemerintah pusat.

“Dengan jumlah kapasitas penumpang cukup besar kapal, ya ada 925 seat, apalagi dilihat dari angka kasus Covid-19 di Kota Jayapura dari tahun 2020 tepatnya 15 Maret. Kapal ini mampu menampung dan merawat warga Kota Jayapura, masyarakat Papua secara umum dan juga para atlet serta ofisial PON XX yang terpapar Covid-19,” ungkap Wali Kota BTM didampingi Wakil Wali Kota, Rustan Saru dan Kepala Dinas Kesehatan, dr Ni Nyoman Sri Antari, saat melepas KM Tidar yang telah menyelesaikan tugas kemanusiaan menjadi Rumah Sakit Pusat Terapung Covid 19 di Kota Jayapura, Minggu (31/10/2021) di Pelabuhan Jayapura.

BTM juga sedikit mencurahkan isi hatinya (curhat) dalam mengenang kehadiran KM Tidar di Pelabuhan Jayapura yang tidak mudah dan penuh dengan penolakan dari sejumlah pihak. Pasalnya, masing-masing pengelola pelabuhan tetap mempertahankan ego sektoral, tidak ingin memperhatikan kemanusiaan.

“Sehingga Pak Kapolres dengan saya harus mencak-mencak di tempat ini. Harusnya jika para pengelola berpikir cedas bahwa Indonesia sedang dilanda corona, termasuk Kota Jayapura, yang harus ada di benak mereka adalah masalah kemanusiaan. Karena hak asasi tertinggi adalah kemanusiaan yang harus ditolong dan diselamatkan,” bebernya.

Ia mengklaim bahwa Pemkot Jayapura telah mengelontorkan dana APBD yang tidak sedikit untuk menangani Covid-19 di kota ini. Pihaknya harus membayar Hotel Sahid sebesar 4 miliar rupiah lebih untuk menampung rakyat demi kesembuhannya. Pemkot juga membayar sewa fasilitas LPMP Papua sebesad 250 juta rupiah demi kemanusiaan rakyat Kota Jayapura.

“Kami tidak pandang bulu, suku, agama dalam pelayanan covid. Ketika dia adalah warga Kota Jayapura maka kita harus tolong dan selamatkan. Puji Tuhan dengan keluh kesah, Pemkot Jayapura dengan keterbatasan dana, Tuhan tolong kita melalui isolasi terapung di KM Tidar tanpa dibayar. Terima kasih kepada para nakes dan juga seluruh crew KM Tidar yang sudah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang dirawat sebagai pasien covid di rumah sakit terapung ini,” jelasnya.

Sementara Charles, Karyawan Bank Indonesia mewakili pasien Covid-19 yang pernah dirawat di KM Tidar memberikan testimoni yang luar biasa. Charles begitu bersyukur skarena mendapatkan pelayanan terbaik dari para nakes mulai pagi hingga malam hari saat menjalani isolasi terapung.

“Tengah malam pun mereka datang untuk melihat kami. Ada beberapa yang sempat sakit, para nakes datang memeriksa kondisi kesehatannya. Perhatian sangat luar biasa bagi kami semua. Untuk makan dan segala macam kami mendapatkan pelayanan itu sangat baik dan bergizi. Kemudian juga obat-obatan dikasih mulai dari vitamin dan juga bantuan dari luar sehingga kami semua dapat kembali sehat,” kenang Charles.

Diketahui bahwa kapal putih milik PT Pelni ini telah melaksanakan tugas hampir dua bulan lebih yakni sejak Agustus-Oktober 2021. Dan tepat 31 Oktober 2021, KM Tidar menyelesaikan tugasnya dan mengangkat jangkar dari Pelabuhan Jayapura. (Redaksi Topik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here