Prosesi pemakaman Puranus Lokbere, korban penembakan misterius di Keneyam, Nduga/ist

Keneyam, Topikpapua.com, – Masyarakat Kabupaten Nduga, Papua, mengutuk keras insiden penembakan misterius oleh orang tak dikenal (OTK) yang merenggang nyawa Puranus Lokbere (16) pada Rabu (6/4/2022) malam.

Atas peristiwa itu, seluruh elemen masyarakat Nduga membuat pernyataan sikap atas insiden mengenaskan tersebut.

Pernyataan sikap itu disampaikan warga bersama keluarga korban saat jenazah korban diletakan di perempatan Kota Keneyam Rabu malam, dimana aksi itu sebagai luapan protes atas kematian bocah tak berdosa yang ditembak secara misterius.

Saat itu nampak hadir Bupati Nduga Wentius Imiangge, Kapolres dan Pabung Kodim Yahukimo.

Mengawali orasinya, Tokoh Agama Nduga, Elieser Tabuni mengungkapkan bahwa penembakan seperti ini sudah lima kali terjadi di wilayah Keneyam.

“Ini bukan yang pertama, sudah lima kali terjadi. Maka itu, kami dari pihak gereja minta jangan lagi terulang seperti ini,” pintanya.

Tabuni juga meminta Presiden Joko Widodo memerintahkan Panglima TNI untuk segera menarik pasukan TNI non organik dan membentuk Kodim definitif di Kabupaten Nduga.

Sementara dari Tokoh Pemuda Nduga, Takeos Lokbere mengatakan, kejadian penembakan seperti ini mengisyaratkan bahwa harapan hidup masyarakat Nduga sudah tidak dianggap karena diklaim sebagai penjahat.

“Kita semua ini dianggap sebagai penjahat, jadi mereka tembak kita sembarang,” kata Takeos.

Ia pun berharap Pemkab Nduga dan Pemprov Papua memberikan jaminan keamanan bagi keselamatan hidup masyarakat Nduga yakni dengan segera memulangkan pasukan TNI penugasan non organik dari Jakarta tersebut.

“Terus kalau bikin pos harus jauh dari Kota Keneyam agar mereka ini jangan ada di ibu kota. Karena mereka ada di kota maka TPN/OPM pun asuk kejar di sini dan membuat TNI curiga masyarakat sipil dan menembak sembarang. Salah satu buktinya mereka salah sasaran tembak anak yang tidak berdosa ini (Puranus Lokbere),” beber Takeos.

Senada dengan Takeos Lokbere dan Elieser Tabuni, salah satu Tokoh Intelektual Nduga, Piter Gany, juga memberikan ultimatum tentang penarikan pasukan non organik di wilayah Nduga.

Menurut Piter, jika pasukan non organik itu tidak segera dipulangkan maka Kabupaten Nduga tidak akan mengalami kemajuan dalam pembangunan serta menghambat proses regenerasi penerus masa depan.

“Karena kehadiran pasukan non organik sangat mengganggu kenyamanan masyarakat, mereka berperang dengan TPN OPM di kota ini. Kalaupun harus dibuatkan pos, jangan di sini. Karena di sini, kota ini untuk pemerintah melayani masyarakat, bukan baku perang,” ucapnya kesal.

Dalam kesempatan yang sama, Tokoh Perempuan Nduga Yakomina Gwijangge juga turut menyampaikan orasinya. Yakomina mengatakan, para ibu melahirkan generasi emas Nduga bukan untuk dibunuh, dibantai dan disiksa.

” Kita perempuan Nduga Ini melahirkan setengah mati, membesarkan dan merawat mereka juga penuh perjuangan. Kita berharap mereka sekolah baik supaya bisa kembali membangun daerahnya dan menghidupi keluarga mereka. Tapi hari ini, kita mama-mama Nduga menerima kepahitan karena kehilangan salah satu generasi masa depan kami. Kita menjaga mereka seperti telur ayam jangan sampai pecah,” paparnya.

Otomi Gwijangge salah satu Tokoh Intelektual juga menyampaikan soal kejadian penembakan yang terjadi berulang kali seperti ini. Sebab itu, ia menyarankan agar Pemkab Nduga bersama DPR harus bersepakat bahwa pasukan non organik yang saat ini masih berkedudukan di ibu kota Keneyam, harus segera ditarik sehingga kehadiran pasukan tersebut tidak lagi mengusik kenyamanan hidup masyarakat.

“Saya setuju dengan membangun pos harus berapa kilo dari kota agar mau perang silakan di hutan sana. Jangan masuk di kota nanti masyarakat sipil akan jadi korban,” terang Otomi.

Pabung mewakili Dandim Yahukimo, dalam kesempatan itu menyampaikan turut berduka atas meninggalnya Puranus Lokbere akibat aksi penembakan yang belum diketahui pelakunya.

“Kami dari Koramil jujur bahwa kami juga kaget sama seperti bapak dan ibu atas kejadian ini. Kami penuh menjesal dan hal ini kita sama-ama serahkan ke Tuhan, biarlah Dia yang membalas semuah kejadian ini,” kata Pabung.

Terkait aspirasi masyarakat soal pembentukan Kodim definitif dan penarikan pasukan non organik, Pabung menyarankan agar Pemerintah dan DPR serta para tokoh menyurat kepada Pangdam XVII/ Cenderawih selaku pengambil kebijakan. (Redaksi Topik)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here