Demo Tolak Otsus Berujung Ricuh, Ini Klarifikasi Kapolresta Jayapura

0
Kapolresta Jayapura Kota, AKBP Gustav R. Urbinas

Jayapura, Topikpapua.com, – Polresta Jayapura Kota tak tinggal diam menyikapi berbagai pemberitaan hoax yang tersebar luas di media sosial, yang menyebut adanya korban mahasiswa menjadi korban penembakan aparat saat demo tolak Otsus, 27 Oktober lalu.

Kapolresta Jayapura Kota AKBP Gustav R. Urbinas secara tegas menyampaikan tidak ada korban ataupun mahasiswa yang tertembak peluru aparat.

“Itu tidak benar. Saat penanganan unjuk rasa, Polisi hanya menggunakan gas air mata, tameng, tongkat dan water canon,” kata Kapolres Gustav, Kamis (29/10/20).

Menurut Kapolres, Polisi akan melakukan penyelidikan siapa pemilik akun medsos termasuk postingan yang sengaja memperkeruh suasana.

Jikapun ada yang terluka, kata Kapolresta menduga, kemungkinan besar lantaran mahasiswa atau oknum yang bersangkutan itu jatuh ataupun menabrak sesuatu dan kemungkinan terakhir adalah terkena pecahan gas air mata (flassball).

Lanjut AKBP Gustav, pihaknya mendapat informasi yang cukup akurat, bahwa yang bersangkutan saat itu panik bersama rekannya saat pembubaran dengan gas air mata dan semprotan water canon, lalu lari dan menabrak pagar kemudian mengalami cedera.

“Kita sudah profeling terkait postingan ini dan akan ditindak lanjuti, apabila nyata-nyata memang cukup memenuhi unsur pidana maka pihaknya akan melanjutkan dengan penyidikan supaya tidak menjadi kebiasaan, ” Terangnya.

Ia pun menuturkan, kalau ada korban, tempat melapor adalah di kepolisian bukan menghilang sendiri lalu membuat postingan yang belum tentu kebenarannya.

“Cara ini sering terjadi dan apabila terjadi di wilayah Polresta kita tidak akan tinggal diam, kita akan selidiki dan ditindak sehingga tidak ada lagi kedepannya untuk membuat postingan-postingan yang dapat menciptakan hoax, “Tukasnya.

Sebagai Kapolresta yang bertanggung jawab atas kamtibmas di kota Jayapura, sejak bulan Maret di imbau untuk tidak melakukan aksi unjuk rasa karena dalam penanganan pandemik covid-19, bila unjuk rasa dilakukan berarti terjadi perkumpulan masa yang tidak dijamin mereka melaksanakan protokol Kesehatan yang telah dianjurkan pemerintah daerah.

“Berdasarkan pengalaman pihak dalam penanganan aksi unjuk rasa dari kelompok-kelompok tertentu kebanyakan tidak mengikuti imbauan dari petugas bahkan cenderung menuju kepada indikasi menciptakan konflik, ” Cetusnya.

Bahkan dalam demo tolak Otsus selasa kemarin, kata Kapolresta ditemukan bom molotov untuk sengaja memancing terjadinya chaos, itu cukup bukti dengan banyak membakar ban, membakar mobil rusak digulingkan di fasilitas jalan umum dan bom molotov yang belum dipakai.

“Dari fakta-fakta itu ini ada indikasi kuat memang mereka ingin menciptakan kekacauan, Para pihak jangan menyampaikan bahwa kami menutup ruang demokrasi,  saya mengatakan sebagai Kapolresta, kami tidak ditutup ruang Demokrasi, yang salah adalah metode menyampaikan pendapat saat pandemi, ” Pungkas AKBP Gustav Urbinas. (Redaksi Topik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here