BTM Bacakan Sambutan Ketua Sinode pada HUT ke – 64 GKI di Tanah Papua

0
Wakil Ketua Majelis GKI Pniel Kota Raja, Penatua. Benhur Tomi Mano saat membacakan sambutan Ketua Sinode GKI di Tanah Papua / ist

Jayapura, Topikpapua.com, – Hari ini  seluruh warga GKI di Tanah Papua bersukacita dan melaksanakan ibadah syukuran atas HUT GKI di Tanah Papua yang ke 64 Tahun.

Walikota jayapura, Benhur Tomi Mano yang juga sebagai wakil ketua Majelis Jemaat GKI Pniel Kota Raja dalam perayaan HUT GKI di jemaat nya membacakan sambutan Ketua Badan Pekerja Am Sinode GKI di Tanah Papua, Pendeta Andrikus Mofu, MTh.

Berikut isi sambutan Ketua Badan Pekerja Am Sinode GKI di Tanah Papua :

Pertama-tama, Badan Pekerja Am Sinode GKI Di Tanah Papua mengajak kepada kita sekalian, untuk menaikan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus Kepala Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua, yang selalu memelihara dan menjaga Gereja ini, melewati setiap zaman dan di segala tempat di Tanah Papua, hingga hari ini, kita dapat merayakan 46 Tahun GKI Di Tanah Papua, Bersinode, atau menjadi sebuah Lembaga Organisasi yang berdiri sendiri, setelah 101 tahun sejarah Injil masuk di Tanah Papua 5 Februari 1855.

Injil itu berbuah lebat hingga hari ini. Juga kami tetap berharap dan menaruh iman percaya kepada Tuhan bahwa keadaan saudara-saudara tetap sehat dan semangat dalam menjalankan tugas, apalagi di tengah-tengah situasi Covid-19, yang cukup menjenuhkan, serta diberkati oleh Tuhan dalam rumah tangga dan pekerjaan saudara-saudara sekalian.

Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua; yang didalamnya adalah “kita”, yaitu orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi anak-anaknya yang dikuduskan untuk menjalankan pekerjaanNya yang besar, melalui GerejaNya sendiri.

Gereja berdiri, bukan atas kemauan seseorang atau sekelompok orang, tetapi Gereja berdiri karena kemauan Tuhan Yesus Kristus.

(Mat.16:18) dan “kita” adalah alat di dalam tanganNya untuk berkarya bagi kemuliaan NamaNya.

Untuk saat sekarang ini, GKI di Tanah Papua sedang berada ditengah pusaran globalisasi dan modernisasi serta realitas perubahan yang begitu mempengaruhi proses pekerjaan gereja yang berlangsung sepanjang waktu dan tempat, yang kesemuanya turut menjadi bagian dari perjuangan dan pergumulan gereja untuk menciptakan eksistensi pelayanan yang lebih mengarah kepada jawaban atas kebutuhan-kebutuhan hidup kita sebagai warga gerejaNya, yang hidup dalam iman serta berharap pada Tuhan Yesus didalam KasihNya dan konsekuensi dari globalisasi dan modernisasi ini, kita bertemu dengan Penyebaran Pandemi Virus Corona-19 sebagai situasi yang baru dan membutuhkan cara ataupun strategi yang baru pula di dalam penanganannya.

Badan Pekerja Am Sinode telah berupaya bekerja sama dengan pemerintah untuk bersama-sama memutuskan rantai penyebaran covid-19, namun upaya ini tentunya tidak akan maksimal tercapai tanpa dukungan disiplin diri sendiri untuk mematuhi hal-hal yang di sampaikan berulang-ulang dalam protokol Kesehatan.

Karena itu Badan Pekerja Am Sinode, mengajak kepada seluruh warga GKI Di Tanah Papua, untuk menjadi pelopor dan garda terdepan dalam hal mendisiplinkan diri sendiri sehingga selalu ada harapan bahawa badai corona akan berlalu dan kita memasuki situasi baru di era New normal paska corona.

Di usia ke 64 tahun, GKI Di Tanah Papua, menjadi sebuah Sinode, yang didalamnya ada Klasis dan Jemaat telah melewati banyak fase gumul yang sangat besar dan berat, namun karena Gereja ini berdiri atas kemauan Tuhan, maka Dia jugalah yang memelihara dan menuntun kita semua melewati setiap beban pergumulan gereja ini. Situasi apa dan bagaimana yang dihadapi GKI Di Tanah Papua, itu jugalah yang dihadapi Di Tanah Papua secara umum.

Dimana-mana sejak awal GKI Di Tanah Papua berdiri dan bersinode, sudah ada dalam arus politik berbangsa dan bernegara, Hal ini menunjukan bahwa Berdirinya GKI Di Tanah Papua, bukan saja “buah” dari berita Injil tetapi lebih dari itu adalah Alat yang dipakai Tuhan untuk mengimplementasikan Injil melalui upaya menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah, sehingga suka atau tidak GKI Di Tanah Papua, harus berjuang atas nama Tuhan pendiri Gereja ini, untuk turut serta menjaga dan mengawal Tanah Papua, alam dan manusianya agar tetap berada dalam situasi yang aman dan damai.

Kita memahami bersama, bahwa untuk mewujudkan situasi yang aman dan damai tidaklah semudah yang dikatakan oleh lidah kita, karena yang terpenting adalah sebuah tindakan hidup yang berpihak pada kehidupan bersama dalam kebenaran tanpa “kepentingan”.

Kalau Tindakan seperti ini yang terjadi, maka kehidupan bersama akan terjamin dan terjalin dengan harmonis. Dahulu orang dapat mengatakan “damai itu indah”, tetapi di Tanah Papua “damai itu mahal”.

Mengapa damai menjadi mahal, karena harus ada yang menjadi “korban”, yang semestinya tidak boleh terjadi di Tanah Papua ini.

GKI Di Tanah Papua, sudah banyak terlibat dalam penyelesaian setiap peristiwa dan persoalah-persoalan yang bukan hanya menyangkut persoalan politik, hukum, ekonomi, tetapi juga jauh lebih penting adalam mengurus alam dan manusia yang ada di dalamnya.

Coba kita lihat disekitar kita di Tanah Papua ini, berapa banyak orang yang berada dalam standar kemiskinan, sementara Undang-Undang no. 21 tahun 2001, tentang Otonomi khusus, yang bertujuan mensejahterakan masyarakat, dimana warga GKI ada didalamnya semakin banyak, tetapi dipihak lain, banyak juga warga kita yang terseret ke Pengadilan karena tindakan Korupsi, lalu sekarang terjadi prokontra tentang otsus tolak atau terima.

GKI Di Tanah Papua, tetap berharap ada evaluasi menyeluruh tentang Otonomi khusus, bukan cuma soal uang dan kewenangan tetapi soal sistim, meknisme, implementasi yang benar-benar harus secara tulus dan elegan diberikan oleh Pemerintah pusat sehingga pemerintah di Tanah Papua dapat menjabarkannya melalu Perda, Perdasus atau peraturan internal yang dapat dipakai sebagai dasar hukum bagi kelancaran cita-cita yang terkandung melalui Otonomi khusus.

Tidak hanya itu, karena kemiskinan juga melahirkan penyakit masyarakat, seperti HIV/AIDS secara fisik, tetapi juga secara mental.

Masih banyak yang mengkonsumsi MIRAS,dengan dampak mabuk dan mengganggu kenyamanan hidup sekitar secara bersama.

Masih ada juga kegiatan peredaran NARKOBA yang bahkan sampai ke anak-anak dalam bentuk permen gula,bahkan dilingkungan sekitar kita melihat bagaimana anak-anak AIBON, yang merupakan ANCAMAN GENERASI MASA DEPAN GEREJA,BANGSA DAN NEGARA YANG SANGAT SERIUS.

Ini semua menjadi tanggung jawab moril Gereja, yang membutuhkan pelayanan. Inilah tantangan internal (dalam lingkungan GKI Di Tanah Papua) yang perlu ditangani dengan berbagai program pelayanan gereja yang bersifat strategis.

Tantangan eksternal yang datang dari luar melalui kehidupan sosial kemasyarakatan di Tanah Papua, masih saja terjadi sampai hari ini, persoalan supremasi hukum dan pelanggaran HAM, penembakan, pembunuhan, penjarahan yang dilakukan oleh oknum maupun kelompok yang tidak bertanggung jawab, apalagi kasus-kasus penembakan, pembunuhan, sudah merambat ke area Gerejawi, dimana Pejabat, tokoh Gereja yang berjabatan “pendeta”pun tak segan-segan di hilangkan nyawanya, dan tindakan ini tidak lagi dilihat sebagai tindakan manusiawi semata, melainkan Tindakan yang secara tidak langsung telah “mengundang murka Tuhan”.

Hal yang sama juga terjadi pengrusakan lingkungan, pengeboman ikan yang menghancurkan spesies terumbu karang dan meninggalkan racun yang mengancam kehidupan kita secara sistemik, di darat penebangan hutan secara liar yang merangsang timbulnya tanah longsor, banjir bandang yang berakibat kerugian materil dan moril bagi kehidupan kita.

Di udara lapisan ozon yang semakin menipis yang menimbulkan kebocoran dan menimbulkan naiknya suhu panas yang mengancam kekeringan serta memicu polusi dan pencemaran udara yang merusak tatanan kehidupan bersama.

Menghadapi kenyataan yang terjadi diatas, maka sebagai sebagai Gereja yang dewasa, kita semua TERPANGGIL, sebagai ANAK-ANAK ALLAH untuk menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah.

Tuhan Yesus Kristus telah mengajar kita berdoa “…Datanglah KerajaanMu”…..(Mat.6:10b) menjadi tema sinodal selama periode 2017-2022, Dalam doaNya, Tuhan Yesus menginginkan sebuah keadaan atau suasana yang ada sama seperti dalam KerajaanNya itu, terjadi ditengah-tengah dunia, menjadi misi dari orang-orang yang menerima panggilan dan pengajaranNya tentang doa itu.

Ini berarti, Tugas utama Orang Percaya secara umum, dan warga GKI Di Tanah Papua secara khusus HARUS MENJADI PEMBAWA SUASANA KERAJAAN ALLAH ITU, yang didalamnya ada Kasih,Sukacita, Damai sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kelemah-lembutan dan Penguasaan diri, (Galatia.5:22) menurut Rasul Paulus disebut sebagai “Buah-buah Roh” dan inilah tanda-tanda KerajaanNya itu.

Saudara-saudara Warga GKI Di Tanah Papua yang kami kasihi didalam Tuhan Yesus Kristus…..!

Sudah 17 kali GKI Di Tanah Papua, melakukan Persidangan Gereja, untuk menggumuli seluruh tugas panggilan yang dipercayakan Tuhan Yesus kepada kita. Ini menggugah kita untuk segera siuman, bahwa ternyata di usia ke 64 tahun, kita seharusnya semakin dewasa, kita diingatkan bahwa ada banyak disekitar kita yang belum diselesaikan dengan baik melalui karya Gereja, dan karya pribadi iman kita di setiap sisi kehidupan yang kita jalani.

Karena itu, Badan Pekerja Am Sinode sangat berterima kasih, kepada saudara-saudara warga GKI Di Tanah Papua, atas kesetiaan dan kesabaran terlibat dalam pekerjaan pelayanan di masing-masing Jemaat yang dimulai dari menata diri sendiri dan rumah tangga serta pekerjaan kita.

GKI Di Tanah Papua, juga tidak terlepas dari sejarah panjang Pekabaran Injil 5 Februari 1855, yang tahun mendatang 2021 akan memasuki usia ke 166 tahun.Tentunya kita berada pada tahun anugerah Allah dimana pemeliharaan Allah terus memberkati dan menyertai Tanah Papua dan isinya.

Dengan begitu, kita selaraskan tahun anugerah Tuhan kedalam kehidupan bergeraja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, bagaimana setiap warga GKI Di Tanah Papua memiliki peran dalam menjabarkan anugerah Tuhan itu, agar menjadi berkat dimana ia beraktivitas dalam segala bidang yang ada, itulah sebabnya GKI Di Tanah Papua, menaikan syukur kepada Tuhan atas 64 tahun Gereja ini bersinode kita diterangi dengan sub tema “ Bersama-sama Menata Pelayanan, Menuju Kedewasaan Iman, untuk Menjawab Tantangan Zaman Di Era New Normal”.

Kita ketahui Bersama, bahwa pekerjaan gereja ini, tidak mungkin diselesaikan dengan kekuatan 16 orang di sinode, 9 orang diklasis atau beberapa jumlah majelis dalam satu jemaat, sebab pekerjaan ini membutuhkan Kerjasama semua warga sebagai bentuk dan upaya untuk menata pekerjaan pelayanan sekaligus untuk membuktikan bahwa kita sebagai warga gereja layak menunjukkan kedewasaan dalam beriman, yang tentunya upaya semua ini menunjukan pula adanya peyaluran talenta, karunia dari masing-masing umat, sebagai orang percaya untuk membangun Tubuh Kristus, ini adalah kekuatan moril GKI Di Tanah Papua, yang dirasa cukup kuat untuk dipakai menangkal kendala sebagai tantangan zaman, di era new normal karena penyebaran pandemic covid-19.

Warga GKI Di Tanah Papua, yang dikasihi Tuhan Yesus!

Dalam semangat Hut GKI ke 64 tahun, disekitar kita maka marilah kita bergandengan tangan untuk menciptakan situasi yang kondusif. Ini kami katakan karena disekitar kita masih saja terjadi konflik politik karena Pemilihan Umum Kepala Daerah (PEMILUKADA), ketidak puasan akan hasil pemilihan, politik adu domba. Ingatlah, perjuangan kita bukanlah soal kekuasaan, tetapi soal menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah.

Ketidakpuasan akan kekuasaan dan jabatan sangat bertentangan dengan tanda-tanda kerajaan Allah tersebut. Diinternal GKI kita juga telah mengalami beberapa pengalaman organisasi, baik sebelum sidang sinode ke XVII di Waisai maupun sesudah Sidang Sinode, situasi dan kondisi kepemimpinan yang tergolong tidak stabil kala itu, memotovasi kita semua untuk mengerti, bahwa dalam mencapai sesuatu yang lebih baik untuk hidup bergereja selalu membutuhkan pengorbanan moril, maupun materil secara sukarela.

Dari sini juga kita belajar, bahwa hidup bersama, bekerja bersama dan saling dengar-dengaran adalah suatu sikap yang sangat penting untuk memajukan pekerjaanNya. Itulah sebabnya mengapa Badan Pekerja Am Sinode periode 2017-2022 sekarang ini, berupaya untuk melakukan tindakan konsolidasi struktural, yang berfungsi untuk mengarahkan seluruh perangkat struktur gereja berjalan dalam satu irama dalam azas presbyterial sinodal, begitu juga dengan upaya lain berupa rekonsiliasi yang bertujuan melakukan tindakan struktur untuk mendamaikan, memulihkan dan mengajak bekerja bersama-sama, bagi setiap orang yang bertikai, karena perbedaan pendapat ataupun karena kewenangan kepemimpinan.

Bertolak dari apa yang diuraikan diatas, maka Badan Pekerja Am Sinode GKI Di Tanat Papua, MENGAJAK seluruh Warga GKI Di Tanah Papua dan Pelayan secara khusus, maupun warga Gereja Tuhan secara umum di Indonesia dan Di Tanah Papua untuk :

Pertama, Jagalah kesatuan diantara kita sebagai umat Tuhan karena kita adalah anak-anak yang dikuduskan untuk menjadi penerang, pelopor kehidupan yang disiplin, khususnya untuk mendukung dan berperan aktif dalam pergumulan penyebaran pandemi covid-19 dengan upaya memutuskan mata rantai penyebaran, dan binalah hubungan yang baik dengan Lembaga-lembaga yang ada disekitar saudara-saudara, baik pemerintah maupun swasta dan berusahalah menunjukan kualitas iman ber GKI Di Tanah Papua, yang sopan, santun dan cerdas.

Kedua, Junjung tinggi spotifitas imanmu, dalam menghadapi PEMILUKADA, khususnya di beberapa daerah yang akan melaksanakan pesta demokrasi, kepada Badan Pekerja Klasis, Bakal Klasis dan para Pelayan Firman untuk tidak terlibat dalam politik praktis, dan tidak membawa jabatan gerejawi, masuk kedalam ranah tersebut.

Ketiga, Jagalah kekompakan kerja serta sikap yang rendah hati satu sama lain dalam menjalankan fungsi struktur dan operasional baik pada aras Jemaat,Klasis dan Sinode agar menjadi cerdas dalam bepikir, teguh dalam beiman sehingga kita menjadi bijak dalam mengelola informasi yang masuk, yang mengancam keutuhan persekutuan kita ditengah hidup Bersama, sebagai tanda kedewasaan kita dalam bergereja.

Selamat Ulang Tahun ke 64 GKI Di Tanah Papua, ingat protocol Kesehatan tetaplah semangat dan jadilah berkat bagi semua orang. GKI Di Tanah Papua, bagimu pengabdianku!. Tuhan Yesus memberkati. (Redaksi Topik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here