Begini Fakta Dibalik Kematian Pendeta Yeremia Versi Komnas HAM

0

Jayapura, Topikpapua.com, – Fakta dibalik kematian Pendeta Yaremia Zanambani kembali diungkap secara detail oleh TIM pemantau dan penyelidikan Komnas HAM RI dan perwakilannya di Papua.

Melalui rilis yang diterima Redaksi Topik, Senin (02/11/20) KOMNAS HAM merilis 7 point temuan tersebut, bahkan telah  merekonstruksi seluruh rangkaian peristiwa melalui olah TKP serta menguji dengan keterangan ahli.

Berikut 5 fakta temuan TIM tersebut

1) Terdapat rangkaian peristiwa menjelang kematian Pendeta Yeremia Zanambani, dimana peristiwa itu  terjadi pada 17 – 19 September 2020 siang. Penembakan dan kematian Serka Sahlan serta perebutan senjatanya mendorong penyisiran dan pencarian terhadap senjata yang dirampas oleh TPNPB/OPM. Bahkan sebanyak 2 (dua) kali, yaitu sekitar pukul 10.00 dan 12.00 WIT warga Hitadipa dikumpulkan dalam pencarian senjata dan mengirim pesan agar senjata segera dikembalikan dalam kurun waktu 2-3 hari.

“Dalam pengumpulan massa tersebut, nama (alm.) Pdt. Yeremia Zanambani disebut- sebut beserta 5 (lima) nama lainnya dan dicap sebagai musuh salah satu anggota Koramil di Distrik Hitadipa,” kata M. Choirul Anam selaku Komisioner Komnas HAM.

Baca JugaBerikut Hasil Investigasi TGPF Intan Jaya

Lanjutnya, sekitar pukul 13.10 WIT, terjadi penembakan terhadap salah seorang Anggota Satgas Apter Koramil di pos Koramil Persiapan Hitadipa atas nama Pratu Dwi Akbar Utomo. Pratu Dwi Akbar dinyatakan meninggal dunia pada pukul 16.45 WIT setelah dievakuasi ke RSUD Kabupaten Intan Jaya.

Sementara tim lainnya yang terdapat Sdr. Alpius Hasim Madi diduga melakukan operasi penyisiran guna mencari senjata api yang dirampas. Penembakan Pratu Dwi Akbar juga memicu rentetan tembakan hingga sekitar pukul 15.00 WIT.

“Penyisiran Sdr. Alpius dan pasukannya juga dilihat oleh warga sekitar, termasuk di antaranya istri korban alm., Mama Miryam Zoani,” katanya

Bahkan Alpius disebut menuju kandang babi sekitar waktu penembakan terhadap korban. Di saat bersamaan, juga terdapat pembakaran terhadap rumah dinas kesehatan Hitadipa karena diduga sebagai asal tembakan terhadap Pratu Dwi Akbar atau lokasi persembunyian TPNPB/OPM.

“Setidaknya, 2 (dua) orang saksi melihat api dan asap, serta sisa bara api dari lokasi kebakaran,” katanya

“Korban ditemukan sekitar pukul 17.50 WIT oleh istri korban di dalam kandang babi dengan posisi telungkup dan banyak darah di sekitar tubuh korban. Di lengan kiri korban terdapat luka terbuka dan mengeluarkan darah,” katanya

2) Kematian pendeta Yaremias bukan disebabkan langsung akibat luka di lengan kirinya ataupun luka yang disebabkan tindak kekerasan lainnya. Menurut Ahli, penyebab kematian korban karena kehabisan darah.

“Hal ini dilihat dari luka pada tubuh korban yang bukan di titik yang mematikan dan korban masih hidup ±5 – 6 jam pasca ditemukan,” katanya

Komnas HAM juga meyakini adanya potensi sayatan benda tajam lainnya pada lengan kiri korban. Diduga kuat adanya penyiksaan dan atau tindakan kekerasan lainnya dilakukan terduga pelaku yang bertujuan meminta keterangan atau pengakuan dari korban, bisa soal senjata yang hilang atau keberadaan TPNPB/OPM.

Baca JugaBenny Mamoto : TGPF Tidak Gentar Dengan Gangguan KKB

3) Kondisi tubuh yang Dialami Pendeta Yeremia ditemukan luka terbuka maupun luka akibat tindakan lain. Dimana, Luka pada lengan kiri bagian dalam korban dengan diameter luka sekitar 5-7 cm dan panjang sekitar 10 cm merupakan luka tembak yang dilepaskan dalam jarak kurang dari 1 (satu) meter dari senjata api.

Meski demikian, Tim berkeyakinan bahwa luka tersebut juga dimungkinkan akibat adanya kekerasan senjata tajam lainnya, karena melihat posisi ujung luka yang simetris danjuga potensial ditemukan tindakan lain berupa jejas intravital pada leher, luka pada leher bagian belakang berbentuk bulat dan pemaksaan korban agar berlutut untuk mempermudah eksekusi.

“Diduga terdapat kontak fisik langsung antara korban dengan terduga pelaku saat peristiwa terjadi,” jelasnya.

4) Jarak dan Lubang Tembakan sebagaimana hasil olah TKP, Komnas HAM menemukan setidaknya terdapat 19 titik lubang dari 14 titik tembak pada bagian luar dan dalam kandang babi, maupun pada atap kandang dan luka pada pohon akibat tembakan.

Sementara berdasarkan penghitungan jarak tembak dengan posisi lubang peluru, diperkirakan jarak tembak berkisar 9 – 10 meter yang berasal dari luar kandang dan diarahkan ke TKP maupun sekitar TKP. Arah dan sudutnya pun tampak tidak beraturan/acak.

“Komnas HAM menduga kuat adanya unsur kesengajaan dalam membuat arah tembakan yang acak/tidak beraturan dan tidak mengarah pada sasaran, tetapi untuk mengaburkan fakta peristiwa penembakan yang sebenarnya,” jelasnya.

Baca JugaAparat Berhasil Olah TKP Tiga Kasus Pembunuhan di Intan Jaya

Di TKP juga ditemukan bekas-bekas tembakan di dinding gubuk tempat korban ditemukan dan proyektil peluru. Namun dari POLRI belum menjelaskan keberadaan peluru yang ada di lubang kayu balok (terdapat bekas congkelan proyektil peluru pada balok).

“POLRI hanya memberikan penjelasan menemukan proyektil peluru di sekitar tungku,” katanya

5) Peristiwa kematian Pdt. Yeremia Zanambani merupakan bagian dari berbagai kekerasan bersentaja yang telah berlangsung di Intan jaya dengan pola dan karakter yang mirip satu dengan yang lain.

Dari 5 fakta temuan dan analisa peristiwa di atas, Komnas HAM menyimpulkan :

1) Pdt. Yeremia Zanambani mengalami penyiksaan dan/atau tindakan kekerasan lainnya berupa tembakan ditujukan ke lengan kiri korban dari jarak kurang dari 1 (satu) meter/jarak pendek pada saat posisi korban berlutut.

“Korban juga mengalami tindakan kekerasan lain berupa jeratan, baik menggunakan tangan ataupun alat (tali, dll) untuk memaksa korban berlutut yang dibuktikan dengan jejak abu tungku yang terlihat pada lutut kanan korban. Dan /atau kematian pendeta Yeremia dilakukan dengan serangkaian tindakan yang mengakibatkan hilangnya nyawa diluar proses hukum / extra judicial killing,” katanya

2)  Pdt. Yeremia Zanambani diduga sudah menjadi target atau dicari oleh terduga pelaku dan mengalami penyiksaan dan/atau tindakan kekerasan lainnya untuk memaksa keterangan dan/atau pengakuan dari korban atas keberadaan senjata yang dirampas TPNPB/OPM maupun keberadaan anggota TPNPB/OPM lainnya.

Baca JugaKogabwilhan III Minta Tim Investigasi Usut Seluruh Rangkaian Kejadian di Intan Jaya

Hal  ini secara tegas disampaikan Sdr. Alpius, anggota TNI Koramil Hitadipa, yang menyebutkan nama Pdt. Yeremia Zanambani sebagai salah satu musuhnya.

Pendeta Yeremia Zanambani juga cukup vokal dalam menanyakan keberadaan hilangnya 2 (dua) orang anggota keluarganya kepada pihak TNI.

3) Pelaku langsung penyiksaan dan atau extra judicial killing terhadap Pdt. Yeremia Zanambani diduga merupakan anggota TNI dari koramil persiapan Hitadipa dilihat dari bekas luka tembakan yang diduga dengan jarak kurang dari 1 meter, ruang terbatas pada kandang babi, tembakan berasal dari senjata api jenis shut gun atau pistol atau jenis lainnya yang memungkinkan digunakan dalam ruang tersebut.

“Diduga kuat pelaku adalah Sdr. Alpius, Wakil Danramil Hitadipa, sebagaimana pengakuan langsung korban sebelum meninggal dunia kepada 2 (dua) orang saksi, dan juga pengakuan saksi-saksi lainnya yang melihat Alpius berada di sekitar TKP pada waktu kejadian dan 3 atau 4 anggota lainnya,” jelasnya.

4) Dengann melihat kronologi atas peristiwa yang dialami Pdt. Yeremia Zanambani, patut di duga terdapat perintah pencarian senjata yang telah dirampas pada peristiwa tgl 17 dan anggota TPNB /OPM. Pemberi perintah ini patut diduga merupakan pelaku tidak langsung.

5) Terdapat upaya mengalihkan atau mengaburkan fakta-fakta peristiwa penembakan di TKP berupa sudut dan arah tembakan yang tidak beraturan yang dibuktikan dengan banyak titik lubang tembakan dengan diameter yang beragam, baik dari luar TKP (sekitar pohon), di bagian luar dan dalam serta bagian atap/seng kandang babi. Komnas HAM meyakini bahwa tembakan dilakukan dalam jarak dekat jarak 9–10 meter dari luar kandang.

6) Bahwa terdapat barang bukti berupa pengambilan proyektil peluru dari lubang kayu balok di TKP yang tidak diketahui keberadaannya saat ini. Selain itu terdapat upaya agar korban segera dikuburkan tidak lama setelah kejadian juga sebagai upaya untuk tidak dilakukan pemeriksaan terhadap jenazah korban untuk menemukan penyebab kematian.

7) Ada fakta pendekatan keamanan yang melanggar hukum dan tata kelola keamanan yang kurang tepat di Hitadipa atau wilayah Intan Jaya secara umum. Salah satu contohnya adalah menggunakan msyarakat menjadi bagian dari kekerasan bersenjata, men stigma yang menimbulkan rasa ketakutan dan ketidak percayaan.

Baca JugaTeror di Intan Jaya, Kapolda Papua : Apakah Karena Disana Ada Tambang…?

Sebagaimana fakta, informasi dan kesimpulan diatas, Komnas HAM merekomendasikan

1) Kasus Pendeta Yeremia Zanambani di ungkap sampai aktor yang paling bertanggung jawab dan membawa kasus tersebut pada peradilan KONEKSITAS. Proses hukum tersebut dilakukan dengan profesional, akuntable dan tranparan.

2) Proses hukum dilakukan di Jayapura dan atau tempat yang mudah dijangkau dan aman oleh para saksi dan korban.

3) Memberikan perlindungan para saksi dan Korban oleh LPSK.

4)  Penting untuk melakukan pendalaman informasi dan keterangan terkait:
a.Kesaksian Alpius dan seluruh anggota TNI di Koramil persiapan hitadipa, termasuk stuktur komando efektif dalam peristiwa tersebut dan yang melatar belakangi.

b. Mendalami upaya pengalihan dan atau pengaburan fakta – fakta peristiwa.

5) Menciptakan kondisi yang menjamin rasa aman seluruh masyarakat di Hitadipa melalui:
a. Tidak menggunakan security approach dan membenahi tata kelola keamanan.

b. Menghormati hukum HAM dan Hukum Humaniter dengan memastikan bahwa rasa aman bagi masyarakat sipil secara keseluruhan , dengan tidak mengembangkan rasa takut, stigmatisasi dan menjadikan masyarakat sipil dalam instrument kekerasan bersenjata.

c. Penguatan fungsi kepolisian dalam penegakan hukum di polres dan polsek-polsek yang ada di Intan Jaya.

d. Penegakan hukum yang kredible, akuntable dan transparan.

6) Mengaktikan kembali SD-SMP YPPG untuk kegiatan belajar mengajar yang saat ini digunakan sebagai Pos Koramil Persiapan Hitadipa.

7) Mendorong dan mempercepat kesejahteraan masyarakat melalui pelayanan umum dan publik oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Intan Jaya dan jajaran.

“Laporan Penyelidikan ini akan di sampaikan kepada Presiden dan Menkopolhukam. Komnas HAM berharap pengungkapan peristiwa kematian Pendeta Yeremia zanambani secara tranparan, proses keadilan yang professional dan kredible dapat diselenggrakan,” jelasnya. (Redaksi Topik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here