Penambahan Jumlah Pasien Positif C-19 di Papua Menurun, Ini Sebabnya..
- account_circle topik papua
- calendar_month Rab, 27 Mei 2020
- visibility 1.120
- comment 0 komentar

Contoh Reagen PCR untuk Covid-19 / ist
Jayapura, Topikpapua.com, – Dalam dua hari ini di laporkan satgas Covid-19 Papua penambahan jumlah pasien positif Corona di Papua relatif sedikit, sedangkan jumlah sampel swab yang diambil dari hasil rapid reaktif terbilang banyak.
Berdasarkan data dari gugus tugas ota jayapura saja, masih ada 401 sampel swab asal kota jayapura yang hingga kini belum di periksa dengan metode PCR.
Sementara itu berdasarkan data dari Satgas Covid19 Papua, Hingga kini masih ada sekitar 800 san sampel swab dari hasil rapid reaktif di Papua yang menunggu antrian untuk pemeriksaan PCR.
Jubir Satgas Covid-19 Papua, Dokter Silwanus Sumule mengatakan, penyebab utama menumpuknya sampel swab di Laboratorium adalah karena menipisnya stock reagen.
“Mengapa dalam dua hari ini penambahan pasien positif kita sedikit, ya karena Saat ini Stock reagen kita di laboratorium makin menipis, sehingga kita terbatas dan hanya memerika sampel swab dari pasien yang betul-betul harus cepat di ketahui hasilnya, “Kata Dokter Sumule kepada Pers rabu, (27/05/20).
Reagen adalah ekstraksi yang digunakan dalam pengecekan spesimen. Reagen berisi sejumlah senyawa kimia untuk mendeteksi SARS-CoV-2, virus penyebab penyakit COVID-19.
“Reagen itu bahan kimia yang kalau dicampur-campur akan menghasilkan reaksi yang dipakai untuk mendeteksi virus Corona. Kalau reagennya PCR berarti bahan kimia yang dibutuhkan untuk bisa mendeteksi virus Corona yang ada di sampel swab,” Jelas Dokter Sumule.

Illustrasi pengambilan sampel swab
Dokter Sumule mengatakan, dengan masifnya giat rapid test yang di lakukan kota jayapura menyebabkan banyaknya sampel swab yang harus di periksa dengan PCR, sementara alat PCR di Papua hanya tersedia empat unit.
“ Saat inikan kita di Papua punya 4 PCR, dua ada di kota Jayapura dan dua lagi ada di Mimika, namun tidak bisa kerja maksimal karena reagen kita yang menipis, sementara sampel swab terus bertambah karena ada rapid massal di kota Jayapura, “Jelas Sumule.
Menurut Sumule, untuk mendapatkan reagen sangatlah sulit, karena saat ini semua daerah di Indonesia juga membutuhkan, sedangkan penyedia reagen di Indonesia sangatlah terbatas.
“Karena penyedia reagen terbatas jadi kita juga tak bisa pesan banyak, kmaren saja contohnya kita pesan 15.000 reagen, namun hanya di berikan 5000, ya kita juga tak bisa paksa karena daerah lain juga butuh,”Jelas dokter Sumule.
Dokter Sumule mengaku pihaknya telah memesan reagen dalam jumlah banyak untuk segera bisa memeriksa 800 san sampel swab yang saat ini menumpuk di laboratorium.
“Bantu doa ya.., kita sudah pesan dari dua hari lalu.., mudah-mudahan dalam satu dua hari ini sudah bisa datang, “Ujar Sumule.
Diungkapkan Sumule, dampak dari menipisnya reagen ini banyak pasien yang kondisi klinisnya sudah membaik namun belum bisa dinyatakan sembuh karena swabnya harus di periksa lagi sebanyak dua kali dan itu membutuhkan reagen.
“Selain itu kita juga akan mengganggu daya tampung kita di Rumah sakit dan di tempat isolasi, karena pasien belum bisa meninggalkan rumah sakit atau tempat isolasi bila hasil pemeriksaan sampel swabnya belum keluar, “beber Sumule.
Diakui sumule, dengan menipisnya reagen PCR ini sangat mengganggu dan menghambat kerja tim medis dalam rangka mempercepat penenganan covid-19 di Papua.
“ Saat ini yang kita proiritaskan adalah kecepatan kita untuk PCR sampel swab hasil rapid reaktif, sehingga kita bisa cepat menemukan kasus dan segera pula merawat pasien sebelum masuk dalam fase sakit sedang atau berat, itu yang menjadi tantangan kita saat ini, sehingga angka kematian bisa kita tekan dan angka kesembuhan kita tingkatkan, namun itu tidak bisacepat kita lakukan karena keterbatasan reagen, “Ungkap Dokter Sumule.
Sementara itu disinggung soal alternatif lain untuk memeriksa sampel swab rapid reaktif selain menggunakan metode PCR, Dokter Sumule mengaku sebenarnya di Papua terdapat 11 unit TCM (Test Cepat Moluculer) yang tersebar di lima wilayah adatdi Papua.
“Ada 11 unit TCM kita yang juga bisa periksa sampel swab, namun hingga kini hanya 1 unit yaitu di kabupaten Yapen yang bisa jalan, yang 10 lainnya belum bisa beroperasi karena belum memiliki catrige untuk covid-19, “ kata Sumule.
Sumule juga berharap agar dalam waktu dekat rencana Provinsi papua untuk mendatangkan 5 alat PCR baru dan segera mengaktifkan 10 unit TCM ini bisa segera terealisasikan.
“Nanti di tanggal 4 juni saat rapat covid Forkompinda Papua, kita akan bahas juga masalah ini, semoga ada solusinya, “Pungkas Dokter Sumule. (Redaksi Topik)
- Penulis: topik papua




